Aku pernah meminta ruangan tak bersudut
Di sana tak ada lagi tempat biasa kamu menyimpan kenangan
Tidak juga ada tempat biasa kamu duduk membahas angan-angan
Tidak ada lagi tempat yang terlupakan. Lupa dibersihkan.
Pasir Honje, 241013 21:57
Kamis, Oktober 24, 2013
Resah dan Peristiwa
Sudah dua malam ini aku tidur ditemani gelisah. Andaikan ada satu saja orang yang mau sekedar paham pada situasi yang menyelimutiku ini, pasti aku tak seresah ini. Biar saja mataku tetap berkedip, karena ingin kubagi dera itu pada siapa saja yang mau mengerti. Namun, aku tak pernah punya pilihan selain tetap terjaga, membuat seolah-olah ini bukan hal besar, paling tidak di khayalanku.
Aku ingin jadi makhluk astral yang bisa berpindah tempat kapanpun aku mau dalam sekejap. Mungkin kali ini di pantai, atau detik ini juga pindah ke venus. Paling tidak dalam belalak mataku kali ini, aku tak berhenti berkelakar tentang bagaimana aku hidup seperti yang aku mau. Jadi pangeran duyung yang berenang di laut, dikawal sekelompok ikan ekor kuning, atau jadi penguin betina yang mencari makan untuk penguin jantan yang sedang menjaga telur-telur, atau jadi batu yang pasrah saja berdebu. Sukaku saja. Mauku.
Aku menyeduh teh hitam. Namanya tetap teh hitam meski ia tak sepekat kopi. Aku rindu harum melati pada batang-batang teh yang kuseduh. Aroma teh campur melati selalu sanggup mengendurkan syarafku yang mungkin telah lama kejang, namun malam ini aroma itu sirna. Pembauku saja rasanya mati. Kepalaku tak berhenti bekerja dalam tekanan resah di frekuensi paling tinggi. Aku duduk pada tulang jendela, mencoba menahan waktu dengan hal yang tak kususka. Menunggu waktu subuh.
Aku tersentak pada suara derit pintu disela lamunan panjangku. Kepala ibu menyembul di balik pintu, rambut hitamnya menjuntai hingga gagang pintu. Aku terkejut, seolah lamunanku tentang makhluk astral benar terjadi.
Surya tiba, langit belum biru cerah. Sisa pekat malam masih merajai, langit menjadi ungu dengan pendar tembaga mentari. Ibu menyeduh teh hitam lagi, kali ini terasa lebih manis dari seduhan semalam. Rahangku seolah menciut kaget oleh legitnya.
Aku kembali ke rumah dengan rasa gembira. Entahlah. Aku mulai merasa memang tak harus ke kantor hari ini. Aku lelah dirajai resah. Aku butuh diam lebih lama. Baru saja tiba di gerbang, aku melihat dua laki-laki tegap dan rapi berdiri di depan pintu. Kurasa ada ibu di situ, tapi badan ibu terlalu kecil untuk dua laki-laki tegap tersebut hingga badan ibu tak terlihat. Aku menghambur penuh tanda tanya.
Ibu menangis menutup wajahnya. Aku jadi turut menangis, meski aku belum tahu sedikitpun duduk permasalahannya. Aku selalu tak pernah sanggup melihat ibu menangis. Tubuh ibu melorot di tebok, aku menopangnya dan ikut duduk bersimpuh di sampingnya. Memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.
Dua laki-laki tegap dan rapi itu segera pamit dan menyerahkan dua buah amplop coklat besar. Ibu memeluknya dan masih terus menangis. Tanda tanyaku semakin besar. Dua orang tegap dan rapi itu sudah pergi, tapi derap langkahnya masih saja seperti terdengar di telingaku.
Ayahku meninggal, begitu kata dua ajudan ayahku pada ibu. Ibuku adalah perempuan yang sangat mencintai ayah, meskipun aku sangat sangsi bila ayah bilang dia juga sangat mencintai ibu. Dua ajudan ayah hanya menyampaikan kabar duka itu dan pergi, serta dua amplop yang aku tak tahu apa isinya. Mungkin, titipan warisan. Tapi ada satu pesan ajudan itu pada ibu agar ibu tak perlu datang ke pemakaman ayah. Keluarga ayah yang di sana tentu akan malu, jika ibu datang. Karena ibu pernah jadi cibiran.
Aku berhenti menangis. Kurasa resahku terjawab. Dua hari lalu ketika pulang dari kantor, aku mendengar dua orang berbincang mengenai ayahku. Ayahku tersandung beberapa kasus suap dengan beberapa perusahaan. Setelah mendengar itu aku menjadi bimbang. Aku bukan tak tahu berita itu dari televisi, tapi mendengar dua orang bergunjing rasanya hatiku jadi terluka. Selama di rumah aku menjadi resah. Aku dan ibu terpaut dekat, hingga jika salah satu dari kami resah, maka kami turut resah. Semua kejadian itu tak kuceritakan pada ibu. Aku terlalu khawatir. Sejak itu aku jadi terus memikirkan ayah. Bukan karena kasusnya tapi aku jadi sangat ingin bertemu dengannya. Hanya rindu?
Aku tak pernah terlalu kenal pada ayah, apalagi terlalu rindu. Namun, darah yang mengalir di tubuhku tak pernah sekalipun berbohong bahwa dia ayahku. Firasat membawaku hingga aku jatuh terbaring pada keresahan paling dalam. Hingga aku tahu resahku datang dari mana. Aku rindu ayahku, bukan karena kami jarang bertemu. Hanya rindu karena kita takkan lagi bertemu.
Aku ingin jadi makhluk astral yang bisa berpindah tempat kapanpun aku mau dalam sekejap. Mungkin kali ini di pantai, atau detik ini juga pindah ke venus. Paling tidak dalam belalak mataku kali ini, aku tak berhenti berkelakar tentang bagaimana aku hidup seperti yang aku mau. Jadi pangeran duyung yang berenang di laut, dikawal sekelompok ikan ekor kuning, atau jadi penguin betina yang mencari makan untuk penguin jantan yang sedang menjaga telur-telur, atau jadi batu yang pasrah saja berdebu. Sukaku saja. Mauku.
Aku menyeduh teh hitam. Namanya tetap teh hitam meski ia tak sepekat kopi. Aku rindu harum melati pada batang-batang teh yang kuseduh. Aroma teh campur melati selalu sanggup mengendurkan syarafku yang mungkin telah lama kejang, namun malam ini aroma itu sirna. Pembauku saja rasanya mati. Kepalaku tak berhenti bekerja dalam tekanan resah di frekuensi paling tinggi. Aku duduk pada tulang jendela, mencoba menahan waktu dengan hal yang tak kususka. Menunggu waktu subuh.
Aku tersentak pada suara derit pintu disela lamunan panjangku. Kepala ibu menyembul di balik pintu, rambut hitamnya menjuntai hingga gagang pintu. Aku terkejut, seolah lamunanku tentang makhluk astral benar terjadi.
"Kau sudah bangun, Nak?"
"Aku belum juga tidur"Ibu merebahkan tubuhnya di dipan tempatku biasa terlelap. Ibu mengubah posisi tubuhnya, kali ini jantungnya dibebani oleh beban tubuhnya. Sejenak aku memperhatikannya, lalu pandanganku kembali keluar jendela. Ibu berusaha menemaniku hingga terdengar sahut-sahut adzan subuh mendayu-dayu merdu. Sebentar lagi surya tiba. Langit jadi biru lagi dan resahku tak kunjung pulang. Ibu selalu hanya seolah mengerti, tapi kuhargai usahanya. Ibu tak pernah mengerti, bukan karena ibu yang tak peduli, tapi karena aku yang tak mau dikasihani. Ini jadi sekedar pilihan, padahal aku tak mau resah sendiri.
Surya tiba, langit belum biru cerah. Sisa pekat malam masih merajai, langit menjadi ungu dengan pendar tembaga mentari. Ibu menyeduh teh hitam lagi, kali ini terasa lebih manis dari seduhan semalam. Rahangku seolah menciut kaget oleh legitnya.
"Sarapan dulu, Ratih.."
"Tidak, Bu.. Hari ini terlalu sibuk"Aku berjalan pelan menjauhi gerbang rumah. Sekali lagi aku menoleh ke rumah kecilku itu, aku melihat ibu tak henti memandangiku sambil bersandar di pintu. Langit mulai biru, jalan gang kecil dekat rumahku masih sepi, hanya ada seorang ibu dengan dua keranjang besar berisi kangkung, dan seorang anak kecil dengan seragam putih merah dan tas pundak yang lebih besar dari tubuhnya. Aku terus berjalan menuju jalan raya, menuju tempat biasa aku menunggu angkutan kota yang membawaku ke kantor. Sudah tiga meter di tempatku biasa menunggu, ibu menelpon. Dompetku tertinggal di rumah.
Aku kembali ke rumah dengan rasa gembira. Entahlah. Aku mulai merasa memang tak harus ke kantor hari ini. Aku lelah dirajai resah. Aku butuh diam lebih lama. Baru saja tiba di gerbang, aku melihat dua laki-laki tegap dan rapi berdiri di depan pintu. Kurasa ada ibu di situ, tapi badan ibu terlalu kecil untuk dua laki-laki tegap tersebut hingga badan ibu tak terlihat. Aku menghambur penuh tanda tanya.
Ibu menangis menutup wajahnya. Aku jadi turut menangis, meski aku belum tahu sedikitpun duduk permasalahannya. Aku selalu tak pernah sanggup melihat ibu menangis. Tubuh ibu melorot di tebok, aku menopangnya dan ikut duduk bersimpuh di sampingnya. Memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.
Dua laki-laki tegap dan rapi itu segera pamit dan menyerahkan dua buah amplop coklat besar. Ibu memeluknya dan masih terus menangis. Tanda tanyaku semakin besar. Dua orang tegap dan rapi itu sudah pergi, tapi derap langkahnya masih saja seperti terdengar di telingaku.
"Kenapa, Bu?"Ibu hanya menggeleng lemah. Dua lelaki tegap dan rapi itu ajudan ayahku. Aku tak begitu dekat dengan ayahku, dia ada pejabat teras yang beristri dua, ibuku istri keduanya. Ayahku hanya datang ketika ia mau, kurasa. Di lain waktu datang hanya jika aku atau ibu berulang tahun. Dua hari lagi adalah ulang tahunku. Meski aku kini adalah perempuan, ayahku tak pernah lupa datang hanya sekedar membawa seikat bunga dan hadiah, tak lupa pelukan.
Ayahku meninggal, begitu kata dua ajudan ayahku pada ibu. Ibuku adalah perempuan yang sangat mencintai ayah, meskipun aku sangat sangsi bila ayah bilang dia juga sangat mencintai ibu. Dua ajudan ayah hanya menyampaikan kabar duka itu dan pergi, serta dua amplop yang aku tak tahu apa isinya. Mungkin, titipan warisan. Tapi ada satu pesan ajudan itu pada ibu agar ibu tak perlu datang ke pemakaman ayah. Keluarga ayah yang di sana tentu akan malu, jika ibu datang. Karena ibu pernah jadi cibiran.
Aku berhenti menangis. Kurasa resahku terjawab. Dua hari lalu ketika pulang dari kantor, aku mendengar dua orang berbincang mengenai ayahku. Ayahku tersandung beberapa kasus suap dengan beberapa perusahaan. Setelah mendengar itu aku menjadi bimbang. Aku bukan tak tahu berita itu dari televisi, tapi mendengar dua orang bergunjing rasanya hatiku jadi terluka. Selama di rumah aku menjadi resah. Aku dan ibu terpaut dekat, hingga jika salah satu dari kami resah, maka kami turut resah. Semua kejadian itu tak kuceritakan pada ibu. Aku terlalu khawatir. Sejak itu aku jadi terus memikirkan ayah. Bukan karena kasusnya tapi aku jadi sangat ingin bertemu dengannya. Hanya rindu?
Aku tak pernah terlalu kenal pada ayah, apalagi terlalu rindu. Namun, darah yang mengalir di tubuhku tak pernah sekalipun berbohong bahwa dia ayahku. Firasat membawaku hingga aku jatuh terbaring pada keresahan paling dalam. Hingga aku tahu resahku datang dari mana. Aku rindu ayahku, bukan karena kami jarang bertemu. Hanya rindu karena kita takkan lagi bertemu.
Rabu, Oktober 23, 2013
Gemas
Piye kabare?
Ehem. Ada beberapa bagian hidup yang rasanya sulit untuk kita terima dengan baik. Bukan karena kita tak mengerti jika bagian itu harusnya kita jalani saja dan bagian itu akan berlalu karena tertelan masa. Tapi bisa kah mengerti apa makna dibalik menjalani? Penuh teka-teki di balik kata 'menjalani', yaitu bagaimana bisa setiap orang mampu berjuang menerima, dan membuat segalanya menjadi lebih baik.
Semudah apa orang dapat menerima apa-apa yang Tuhan berikan pada mereka? Kita boleh saja menganggap apa yang orang lain alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sedang kita terima. Namun, dibalik itu semua, setiap manusia memiliki kondisi mental, dan pengalaman yang berbeda mengenai hidup. Bisa jadi masalah itu terkesan ringan (untuk kita), tapi kita tak pernah tau apa yang sesungguhnya mereka rasakan, juga kita tak pernah tahu bagaimana mereka berjuang untuk menyelesaikan segalanya dengan pengalaman yang mereka miliki.
Ten, ngomongin hidup lagi?
Haha.. Saya terlalu naif memandangi masalah-masalah yang mampir silih berganti di hidup saya. Muak? Ah, masalah saya bukan apa-apa dibanding dengan monyet-monyet yang harus bekerja dan disiksa, dan sukurnya, kini mereka resign dari pekerjaannya karena Jowoki harus "membersihkan" mereka dari jalanan ibu kota.
Lalu, mengapa bicara tentang masalah lagi?
Hmm.. Saya mau membuka diri lebih lebar lagi, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk mencerca apa-apa cobaan yang Tuhan berikan pada kita. Semisal motor yang mogok ketika kita harus segera mungkin tiba di suatu tempat. Memaki? Ya, memaki mesin yang berhenti menderu, padahal selalu ada campur tangan yang lain di balik itu semua.
Bukan sekedar masalah itu, tetapi juga tentang bagaimana mulai membuka mata dengan lebar bahwa kita tak lebih dari manusia biasa. Kita lahir tanpa agama, bahkan tanpa ingat pada siapa dulu kita pernah berjanji tak akan selalu beriman. Hidup buka sekedar menerima, tapi juga menuntut apa yang mau kita dapat. Dalam ilmu agama kita harus menerima, tapi lupakah kita bahwa agama menyuruh kita berusaha? Dalam banyak perkara, kita lupa menerima, lupa berusaha, padahal itu yang harus kita perbuat.
Sudah, Ten.. Sudah!
Belum! Masih juga gemas bagaimana saya harus bisa memahami hal-hal di balik sesuatu. Kenapa orang mengemis, kenapa orang jadi banci, kenapa orang dipecat, kenapa orang bisa diselingkuhi, kenapa orang tuanya bercerai, kenapa anak itu putus sekolah dan lainnya. Emosi paling sederhana ialah rasa simpati pada mereka. Tapi jika kita paham bagaimana memaknai segalanya, kita akan lebih baik menilai, lebih tepat memilih "bagaimana mengasihani" mereka.
Omonganmu makin kacau, Ten..
Ya, saya memang terlalu kacau dengan mencoba bijak dengan prahara-prahara yang sedang saya alami. Silakan menilai saya adalah drama queen, layaknya selebritis hilang popularitas yang cari sensasi dengan poto telanjang. Semacam itu memang. Naif.
Labels:
celengan babi,
curhat maning,
random
Jumat, Oktober 18, 2013
Enigma
Malam berlalu, dan aku tak pernah bertanya apa yang terjadi ketika itu.
Cinta-cinta segulir malam, berputar begitu saja, siapa yang tahu siapa itu engkau.
Lihat cinta datang lagi, turun bersama purnama, pada sisinya jadi terang benderang.
Kapan kau datang lagi? Aku harap kau tak pernah kembali pulang.
Cintaku datang hanya ketika malam
Ketika bulu mata merapat seperti mengayam
Lalu aku duduk terbangun, bersila merapat.
Bersandar di punggungmu yang hangat.
Hai Tuan, siapa gerangan?
Aku hanya tahu ini cinta karena senyuman, juga genggaman.
Padahal cinta tak pernah sepolos itu
Kadang-kadang ada rindu juga cemburu.
Besok mau datang lagi kah di dentang pukul 12 malam?
Sayangnya malam ini terlalu temaram
Aku menunggumu hingga terlalu larut dalam pejam.`
Kau tak kunjung datang..
Cinta-cinta segulir malam, berputar begitu saja, siapa yang tahu siapa itu engkau.
Lihat cinta datang lagi, turun bersama purnama, pada sisinya jadi terang benderang.
Kapan kau datang lagi? Aku harap kau tak pernah kembali pulang.
Cintaku datang hanya ketika malam
Ketika bulu mata merapat seperti mengayam
Lalu aku duduk terbangun, bersila merapat.
Bersandar di punggungmu yang hangat.
Hai Tuan, siapa gerangan?
Aku hanya tahu ini cinta karena senyuman, juga genggaman.
Padahal cinta tak pernah sepolos itu
Kadang-kadang ada rindu juga cemburu.
Besok mau datang lagi kah di dentang pukul 12 malam?
Sayangnya malam ini terlalu temaram
Aku menunggumu hingga terlalu larut dalam pejam.`
Kau tak kunjung datang..
Kamis, Agustus 29, 2013
Nasib
Habis sudah masa kita. Kita tahu, dan saya terlalu muak dengan kata meraka; "Ada pertemuan, pasti ada perpisahan"
Masa kini membawa kenangan, tentang hujan yang membuat kita kuyup, malam yang selalu menyelimuti, angin yang bernyanyi, juga bintang yang menyinari. Masa kini yang menguak memori, melayang-layang seperti awan pasrah dibawa angin, namun lebih sering sempoyongan karena terlalu letih mengingat.
Adalah kamu pabrik kenangan, membungkus masa lalu dengan rapi. Namun juga senyap yang segera ramai jika telah tiba waktunya: Kita bertemu lagi.
Tidakkah setiap detik adalah nasib? Kau percaya itu? Waktu terlalu ribut berbicara, juga terlalu sibuk membongkar kejutan. Kadang kau heran, padahal kau paham itu nasib. KEJUTAN! Hidup ini terlalu rumit juga aneh untuk dijalani.
Ilalang, mengapa kau seperti menari? Padahal tubuhnya hanya tak mampu melawan angin. Bergerak kesana-kemari, membuat mata lelah -bagi yang memang sudah lelah- tapi, sangat banyak yang menikmati. Ilalang tumbuh di pekarangan rumah kosong. Kenapa di sana? Itu nasibnya. Banyak yang terheran-heran mengapa ilalang yang lain bisa mati, padahal ketika musim penghujan. Mereka mati karena mereka sudah waktunya mati. Banyak yang tak tahu saja, padahal ilalang itu mati tersiram bensin. Nasib.
Kenapa ilalang? Entahlah.
Hari ini bertemu, besok berpisah. Ada yang bisa kau lakukan selain mengenang? Diam-diam saya bertanya, mengapa kita bertemu dalam waktu yang terlalu singkat? Mengapa harus saya dengan kamu? Padahal rencana kita di hari sebelumnya tak pernah demikian. Kita tak pernah berrencana menjejakkan kaki di tempat kita bertemu. Lalu nasib begitu saja berjumpa.
Masih saja kita terheran. Padahal kita terlalu paham juga muak karena ini adalah nasib. Sampai jumpa, jika berjumpa lagi.
Masa kini membawa kenangan, tentang hujan yang membuat kita kuyup, malam yang selalu menyelimuti, angin yang bernyanyi, juga bintang yang menyinari. Masa kini yang menguak memori, melayang-layang seperti awan pasrah dibawa angin, namun lebih sering sempoyongan karena terlalu letih mengingat.
Adalah kamu pabrik kenangan, membungkus masa lalu dengan rapi. Namun juga senyap yang segera ramai jika telah tiba waktunya: Kita bertemu lagi.
Tidakkah setiap detik adalah nasib? Kau percaya itu? Waktu terlalu ribut berbicara, juga terlalu sibuk membongkar kejutan. Kadang kau heran, padahal kau paham itu nasib. KEJUTAN! Hidup ini terlalu rumit juga aneh untuk dijalani.
Ilalang, mengapa kau seperti menari? Padahal tubuhnya hanya tak mampu melawan angin. Bergerak kesana-kemari, membuat mata lelah -bagi yang memang sudah lelah- tapi, sangat banyak yang menikmati. Ilalang tumbuh di pekarangan rumah kosong. Kenapa di sana? Itu nasibnya. Banyak yang terheran-heran mengapa ilalang yang lain bisa mati, padahal ketika musim penghujan. Mereka mati karena mereka sudah waktunya mati. Banyak yang tak tahu saja, padahal ilalang itu mati tersiram bensin. Nasib.
Kenapa ilalang? Entahlah.
Hari ini bertemu, besok berpisah. Ada yang bisa kau lakukan selain mengenang? Diam-diam saya bertanya, mengapa kita bertemu dalam waktu yang terlalu singkat? Mengapa harus saya dengan kamu? Padahal rencana kita di hari sebelumnya tak pernah demikian. Kita tak pernah berrencana menjejakkan kaki di tempat kita bertemu. Lalu nasib begitu saja berjumpa.
Masih saja kita terheran. Padahal kita terlalu paham juga muak karena ini adalah nasib. Sampai jumpa, jika berjumpa lagi.
Labels:
mengambil dari jalan,
perjalanan,
renungan
Jumat, Juli 12, 2013
Sebuah Surat
Kini saatnya aku yang menyatakan seluruh hal yang ingin aku sampaikan, pada orang yang ingin sekali aku tujukan surat ini.
Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.
Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.
Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.
Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.
Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.
*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.
Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.
Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.
Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.
Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.
Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.
*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.
Rabu, Juni 26, 2013
Kopi Rindu
Ini denting kesepuluh
Cangkir kopi ketiga
Dalam satu rasa; Rindu...
Kuhirup kopi seperlunya.
Setelah harum kopiku, ada aromamu.
Syaraf-syarafku seperti dipelintir
Aku dibawa bergerak ke masa lalu.
Ada sumringah terpantul cantik di badan licin cangkir keramik putih
Juga kerling mata yang sejak tadi aku amati
Kaukah itu?
Hanya badan cangkir dengan pantulan wajahmu dan aku tak kuasa menoleh pada arah manapun itu.
Sedetik.. dua detik..
Oh, Tuhan..
Aku kenal betul rengkuhan ini
Dua tangan kuning langsat yang mengalir lembut di pundakku dan membentuk rengkuhan dari punggung ke dada.
Aku tak ingin membayangkan jika benar itu kau.
Hingga kunikmati saja wajahmu yang terpantul pada badan cangkir kopiku
Juga hangat sentuh rengkuh tanganmu
Lalu tak lama jua kau pergi.
Ternyata aku dalam mimpi.
Pasir Honje, 240513, 00:20
Cangkir kopi ketiga
Dalam satu rasa; Rindu...
Kuhirup kopi seperlunya.
Setelah harum kopiku, ada aromamu.
Syaraf-syarafku seperti dipelintir
Aku dibawa bergerak ke masa lalu.
Ada sumringah terpantul cantik di badan licin cangkir keramik putih
Juga kerling mata yang sejak tadi aku amati
Kaukah itu?
Hanya badan cangkir dengan pantulan wajahmu dan aku tak kuasa menoleh pada arah manapun itu.
Sedetik.. dua detik..
Oh, Tuhan..
Aku kenal betul rengkuhan ini
Dua tangan kuning langsat yang mengalir lembut di pundakku dan membentuk rengkuhan dari punggung ke dada.
Aku tak ingin membayangkan jika benar itu kau.
Hingga kunikmati saja wajahmu yang terpantul pada badan cangkir kopiku
Juga hangat sentuh rengkuh tanganmu
Lalu tak lama jua kau pergi.
Ternyata aku dalam mimpi.
Pasir Honje, 240513, 00:20
Tarian Malam
Kau tak tahu..
Adalah kau malam itu.
Gegap sunyi yang kau rayakan
Bersama binatang-binatang yang berkelana malam
Juga bintang-bintang yang selalu jujur pada pancarannya.
Aku berbisik tentang lagu riang
Yang mengiringimu memestakan hening
Juga bersama segala yang menyertaimu berpesta sunyi.
Aku bersandar di tembok-tembok dingin
Mataku yang tetap tetap terpatut pada tubuhmu yang bergerak
Gerakanmu lemah seumpama tarian kerajaan
Aku tetap pada bisik-bisik lagu riang.
Rayakan! Rayakan!
Aku tak mungkin memekik, membuyarkan segala yang merayakan sunyi
Aku berteriak dalam lirih, kau tertawa dalam lirih.
Inikah perayaan?
Aku semakin lebar tersenyum
Gerakanmu yang seperti tarian itu semakin berirama
Meski punggung panggung kabut malam pentasmu semakin rendah melayang dan lenyap menghilang.
Aku kembali menunggu malam.
Pasir honje, 230513, 01:30
Adalah kau malam itu.
Gegap sunyi yang kau rayakan
Bersama binatang-binatang yang berkelana malam
Juga bintang-bintang yang selalu jujur pada pancarannya.
Aku berbisik tentang lagu riang
Yang mengiringimu memestakan hening
Juga bersama segala yang menyertaimu berpesta sunyi.
Aku bersandar di tembok-tembok dingin
Mataku yang tetap tetap terpatut pada tubuhmu yang bergerak
Gerakanmu lemah seumpama tarian kerajaan
Aku tetap pada bisik-bisik lagu riang.
Rayakan! Rayakan!
Aku tak mungkin memekik, membuyarkan segala yang merayakan sunyi
Aku berteriak dalam lirih, kau tertawa dalam lirih.
Inikah perayaan?
Aku semakin lebar tersenyum
Gerakanmu yang seperti tarian itu semakin berirama
Meski punggung panggung kabut malam pentasmu semakin rendah melayang dan lenyap menghilang.
Aku kembali menunggu malam.
Pasir honje, 230513, 01:30
Selasa, Mei 21, 2013
Magis
Di sebuah sore, dalam sebuah rumah nan mungil di suatu kampung yang sangat jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung. Yaitu di Desa Cisereuh, Kabupaten Bandung Barat. Sore itu adalah hari kedatangan saya ke kampung itu. Saya berniat untuk membantu sedikit pekerjaan dinas teman saya sekaligus untuk melepas penat sambil bersilaturahmi. Tak ada yang akan saya ceritakan tentang berbagai konflik di desa ini. Padahal konflik utama di desa ini cukup menarik untuk saya bicarakan, dan konflik ini adalah penyebab utama mengapa teman saya tersebut ditugaskan di tempat ini. Namun ada hal yang lebih menarik untuk saya perbincangkan karena hal ini sangat menggugah pikiran saya belakangan ini.
Sore itu, saya habis mengisi acara untuk anak-anak. Bukan acara besar, hanya sedikit permainan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka agar mahir bicara di publik. Lelah. Itu bukan semata karena saya habis mengisi acara tersebut, tapi karena perjalanan menuju desa itu sangat jauh, ditambah infrastruktur yang sangat amburadul. Singkat cerita, setelah acara selesai dan anak-anak pulang, kami solat ashar, dan setelah itu kami duduk-duduk di ruang tengah sambil bercanda dan bertukar pikiran. Di sela tawa kami, teman salah satu teman saya melontarkan satu pertanyaan seperti ini; "Menurutmu, orang tua itu punya 'power' atau tidak untuk hidupmu? Dan seberapa besar powernya?"
Heh? Kau gila? Tanyaku dalam hati. Ini bukan pertanyaan menurutku, karena tadinya saya pikir semua orang akan punya jawab serupa dengan saya. "YA, PASTI!" Jika ditanya seberapa besar. Saya akan menjawab "BESAR SEKALI"
Temanku si pelontar pertanyaan itu memberi kesempatan pada empat temanku yang lain terlebih dulu, artinya saya dapat giliran terakhir untuk menjawab. Saya mulai keheranan karena semua temanku menjawab bahwa orang tua mereka sudah tak memiliki 'power' lagi bagi hidup mereka. Mereka berdalih karena mereka sudah jauh mandiri. Saya coba menerka, mungkin karena mereka sendiri yang berusaha lepas dari segala 'power' orang tua terhadap dirinya. Saya ragu.
Oo My! Selekat itukah saya pada orang tua?
Oke, supaya persepsi kita sama, saya jelaskan apa itu 'power' yang teman saya maksud diatas ini. Baginya, 'power' orang tua itu adalah segala bentuk pengaruh orang tua bagi diri kita. Termasuk seberapa besar kebutuhan kita pada orang tua.
Kali ini, giliran saya menjawab. Untuk ukuran perempuan dewasa seperti saya, mungkin teman-teman lain yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban 'SUDAH TIDAK ADA POWER', mungkin keheranan dengan jawaban mantap saya, bahwa saya orang tua saya masih sangat berpengaruh besar bagi hidup saya. Lho, Jangan cemooh saya dulu.
Baiklah, jika ada orang yang mendelik dan berbisik saya adalah 'Anak Mama', ya.. silakan. Tapi begini, bagi saya, orang tua saya itu magis seperti dukun. Ya, katakanlah seperti itu, karena saya senang memberi contoh yang sangat ekstrim. Bagi saya, orang tua itu adalah kebutuhan spiritual yang harus selalu saya penuhi supaya hidup saya tidak kerontang. Hal-hal ini tidak ada kaitan dan hubungannya dengan kemandirian saya di kehidupan saya sehari-hari. Saya tak mau sesumbar bahwa diri saya sudah jauh dari mandiri, tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sudah pernah berpisah dengan orang tua saya ketika usia saya 12 tahun. Selama empat tahun saya nyantri di sebuah daerah yang cukup jauh dari rumah. Rasanya sulit kalau saya harus ditengok paling tidak sebulan sekali, karena saya sudah bilang tadi, lokasi pesantren saya cukup jauh dari rumah dan orang tua pasti kerepotan. Saya terbiasa tanpa orang tua. Memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri (padahal asal-usul finansial masih dari orang tua), dan mengatasi konflik sendiri karena orang yang biasa saya tumpui itu sedang berada jauh dari saya. Ya, segalanya serba sendirii. Meski banyak teman disana dan juga ada wali, namun masih kering rasanya. Di rangkaian kebutuhan itu, yang saya butuhkan hanya sekedar bicara, menambah ketuhanan saya dengan berbicara dan memohon restu pada mereka. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Ya paling canggih adalah menelpon mereka dan sekadar bilang "Bu, aku rindu. Sampaikan salam pada Ayah. Aku mohon restu". Cukup. Begitu pula ketika hari-hari saya di tempat lain, misal ketika ada urusan di luar kota, paling tidak itu yang saya ucapkan setiap ibu saya menelpon atau sebaliknya.
Saya percaya magis, dan magis itu adalah orang tua. Saya bukan orang menye-menye yang suka diatur oleh orang tua. Namun saya orang bebas karena suka kebebasan. Magis itu yang memperkuat jalan saya, kemanapun itu. Bahkan ketika saya telah berjalan menuju kebebasan dan ketika saya telah bebas. Saya biarkan diri saya kembali pulang dan terpengaruh lagi pada kekuatan magis orang tua saya, dan akan terus seperti itu. Bukan karena tak ingin bebas sebebasnya, tapi justru untuk memperkuat spiritual saya untuk bebas. Bebas memilih dan menentukan arah kebebasan yang saya cari.
Mengembara, berkelana, atau melanglang seberapapun jauhnya dari rumah, rumah akan menjadi tempat untuk menyegarkan spiritual saya. Saya begitu paham bahwa orang tua sayapun tidak akan berlama-lama tinggal di dunia ini. Peluk, belaian, uluran tangan mereka yang senantiasa ada ketika saya jatuh akan lekang jua dan menjadi kenangan. Tapi perwujudan orang tua sebagai salah satu sumber spiritual saya adalah bukan fisik dan juga bukan rumah tempat tinggal orang tua saya. Namun, Mahaguru yang bercokol dalam sanubari yang berurat dan berakar dalam diri saya, sampai tiba masanya kita bertemu lagi di lain tempat dan waktu.
Sore itu, saya habis mengisi acara untuk anak-anak. Bukan acara besar, hanya sedikit permainan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka agar mahir bicara di publik. Lelah. Itu bukan semata karena saya habis mengisi acara tersebut, tapi karena perjalanan menuju desa itu sangat jauh, ditambah infrastruktur yang sangat amburadul. Singkat cerita, setelah acara selesai dan anak-anak pulang, kami solat ashar, dan setelah itu kami duduk-duduk di ruang tengah sambil bercanda dan bertukar pikiran. Di sela tawa kami, teman salah satu teman saya melontarkan satu pertanyaan seperti ini; "Menurutmu, orang tua itu punya 'power' atau tidak untuk hidupmu? Dan seberapa besar powernya?"
Heh? Kau gila? Tanyaku dalam hati. Ini bukan pertanyaan menurutku, karena tadinya saya pikir semua orang akan punya jawab serupa dengan saya. "YA, PASTI!" Jika ditanya seberapa besar. Saya akan menjawab "BESAR SEKALI"
Temanku si pelontar pertanyaan itu memberi kesempatan pada empat temanku yang lain terlebih dulu, artinya saya dapat giliran terakhir untuk menjawab. Saya mulai keheranan karena semua temanku menjawab bahwa orang tua mereka sudah tak memiliki 'power' lagi bagi hidup mereka. Mereka berdalih karena mereka sudah jauh mandiri. Saya coba menerka, mungkin karena mereka sendiri yang berusaha lepas dari segala 'power' orang tua terhadap dirinya. Saya ragu.
Oo My! Selekat itukah saya pada orang tua?
Oke, supaya persepsi kita sama, saya jelaskan apa itu 'power' yang teman saya maksud diatas ini. Baginya, 'power' orang tua itu adalah segala bentuk pengaruh orang tua bagi diri kita. Termasuk seberapa besar kebutuhan kita pada orang tua.
Kali ini, giliran saya menjawab. Untuk ukuran perempuan dewasa seperti saya, mungkin teman-teman lain yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban 'SUDAH TIDAK ADA POWER', mungkin keheranan dengan jawaban mantap saya, bahwa saya orang tua saya masih sangat berpengaruh besar bagi hidup saya. Lho, Jangan cemooh saya dulu.
Baiklah, jika ada orang yang mendelik dan berbisik saya adalah 'Anak Mama', ya.. silakan. Tapi begini, bagi saya, orang tua saya itu magis seperti dukun. Ya, katakanlah seperti itu, karena saya senang memberi contoh yang sangat ekstrim. Bagi saya, orang tua itu adalah kebutuhan spiritual yang harus selalu saya penuhi supaya hidup saya tidak kerontang. Hal-hal ini tidak ada kaitan dan hubungannya dengan kemandirian saya di kehidupan saya sehari-hari. Saya tak mau sesumbar bahwa diri saya sudah jauh dari mandiri, tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sudah pernah berpisah dengan orang tua saya ketika usia saya 12 tahun. Selama empat tahun saya nyantri di sebuah daerah yang cukup jauh dari rumah. Rasanya sulit kalau saya harus ditengok paling tidak sebulan sekali, karena saya sudah bilang tadi, lokasi pesantren saya cukup jauh dari rumah dan orang tua pasti kerepotan. Saya terbiasa tanpa orang tua. Memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri (padahal asal-usul finansial masih dari orang tua), dan mengatasi konflik sendiri karena orang yang biasa saya tumpui itu sedang berada jauh dari saya. Ya, segalanya serba sendirii. Meski banyak teman disana dan juga ada wali, namun masih kering rasanya. Di rangkaian kebutuhan itu, yang saya butuhkan hanya sekedar bicara, menambah ketuhanan saya dengan berbicara dan memohon restu pada mereka. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Ya paling canggih adalah menelpon mereka dan sekadar bilang "Bu, aku rindu. Sampaikan salam pada Ayah. Aku mohon restu". Cukup. Begitu pula ketika hari-hari saya di tempat lain, misal ketika ada urusan di luar kota, paling tidak itu yang saya ucapkan setiap ibu saya menelpon atau sebaliknya.
Saya percaya magis, dan magis itu adalah orang tua. Saya bukan orang menye-menye yang suka diatur oleh orang tua. Namun saya orang bebas karena suka kebebasan. Magis itu yang memperkuat jalan saya, kemanapun itu. Bahkan ketika saya telah berjalan menuju kebebasan dan ketika saya telah bebas. Saya biarkan diri saya kembali pulang dan terpengaruh lagi pada kekuatan magis orang tua saya, dan akan terus seperti itu. Bukan karena tak ingin bebas sebebasnya, tapi justru untuk memperkuat spiritual saya untuk bebas. Bebas memilih dan menentukan arah kebebasan yang saya cari.
Mengembara, berkelana, atau melanglang seberapapun jauhnya dari rumah, rumah akan menjadi tempat untuk menyegarkan spiritual saya. Saya begitu paham bahwa orang tua sayapun tidak akan berlama-lama tinggal di dunia ini. Peluk, belaian, uluran tangan mereka yang senantiasa ada ketika saya jatuh akan lekang jua dan menjadi kenangan. Tapi perwujudan orang tua sebagai salah satu sumber spiritual saya adalah bukan fisik dan juga bukan rumah tempat tinggal orang tua saya. Namun, Mahaguru yang bercokol dalam sanubari yang berurat dan berakar dalam diri saya, sampai tiba masanya kita bertemu lagi di lain tempat dan waktu.
Kamis, Mei 09, 2013
PHP
Buat anak muda jaman sekarang sih, PHP itu bukan bahasa asing lagi ya. Bahkan PHP ini sudah menjadi kata kerja dan kata sifat selain untuk subjek. Misal, "Eh, si kunyuk itu nge-php-in cewe yang kemaren kenalan di chatting itu lho.." atau "Siyal, gue di-php-in sama cowo itu!" Dan sebagainya..
Oke, karena beberapa pembaca blog saya ini ibu-ibu juga, jadi saya mau jelaskan sedikit apa itu PHP. Jadi PHP adalah sebuah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Dari frasenya saja sudah pasti tindakan ini adalah tindakan kurang menyenangkan. Bahkan kriminil hehe.. Ya, ibarat orang bilang ini asli padahal palsu, kan bisa kena UU penipuan XP
Kebanyakan korban sih perempuan, tapi korban dari kaum laki-laki juga ga kalah banyak. Sebetulnya, korban PHP itu semacam dianggurin sekian lama setelah lama pedekate. Awalnya friendzone atau adik-kakak tapi lama-lama malah jadi bingung sama hubungan yang mau dibawa kemana. Boro-boro berharap mau hidup sehidup-semati, dipacarin aja ngga. Eaaa..
Jadi ingat kata Bang Napi, kalau kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan, dan itu benar adanya. Saya sih yakin awalnya, para korban mau aja dirayu, (misalnya) sama laki-laki, dan itu semua karena ada kesempatan untuk merayu. Kemudian keasikan digombalin akhirnya berharap.
Saya pikir, PHP itu ga melulu salah lagi. Wajar orang merayu, dan merayu itu bisa saja untuk banyak (kemungkinan) kepentingan. Lalu, kenapa jadi merasa kecakepan terus berharap. Oke.. bahasanya saya perhalus, kenapa jadi merasa pantas untuk dirayu?
Iya, saya pernah muda, dulu pernah jadi korban PHP. Tapi ya, itu dulu. Jadi korban itu bukan menjadi orang yang patut dikasihani, justru merasa bodoh dan jangan sampai pernah terulang lagi.
Oke, karena beberapa pembaca blog saya ini ibu-ibu juga, jadi saya mau jelaskan sedikit apa itu PHP. Jadi PHP adalah sebuah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Dari frasenya saja sudah pasti tindakan ini adalah tindakan kurang menyenangkan. Bahkan kriminil hehe.. Ya, ibarat orang bilang ini asli padahal palsu, kan bisa kena UU penipuan XP
Kebanyakan korban sih perempuan, tapi korban dari kaum laki-laki juga ga kalah banyak. Sebetulnya, korban PHP itu semacam dianggurin sekian lama setelah lama pedekate. Awalnya friendzone atau adik-kakak tapi lama-lama malah jadi bingung sama hubungan yang mau dibawa kemana. Boro-boro berharap mau hidup sehidup-semati, dipacarin aja ngga. Eaaa..
Jadi ingat kata Bang Napi, kalau kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan, dan itu benar adanya. Saya sih yakin awalnya, para korban mau aja dirayu, (misalnya) sama laki-laki, dan itu semua karena ada kesempatan untuk merayu. Kemudian keasikan digombalin akhirnya berharap.
Saya pikir, PHP itu ga melulu salah lagi. Wajar orang merayu, dan merayu itu bisa saja untuk banyak (kemungkinan) kepentingan. Lalu, kenapa jadi merasa kecakepan terus berharap. Oke.. bahasanya saya perhalus, kenapa jadi merasa pantas untuk dirayu?
Iya, saya pernah muda, dulu pernah jadi korban PHP. Tapi ya, itu dulu. Jadi korban itu bukan menjadi orang yang patut dikasihani, justru merasa bodoh dan jangan sampai pernah terulang lagi.
Minggu, April 07, 2013
Cerita Pagi
Gagahnya koko ayam. Syahdu.
Lebuh syahdu lagi suara ayahku.
Yang mengaji sejak selesai subuh.
Suaranya menggugahku..
Ada kicau burung merdu.
Tapi paling merdu suara ibuku.
Yang setiap pagi menasehatiku;
Agar bangun diawal waktu..
Hangat matahari menyambutku.
Lebih hangat lagi senyum ayah ibuku.
Yang mengantarku pergi dari peraduanku.
"Ayah, Ibu.. Aku berangkat sekolah dulu.."
Bandung, 8 April 2013
Lebuh syahdu lagi suara ayahku.
Yang mengaji sejak selesai subuh.
Suaranya menggugahku..
Ada kicau burung merdu.
Tapi paling merdu suara ibuku.
Yang setiap pagi menasehatiku;
Agar bangun diawal waktu..
Hangat matahari menyambutku.
Lebih hangat lagi senyum ayah ibuku.
Yang mengantarku pergi dari peraduanku.
"Ayah, Ibu.. Aku berangkat sekolah dulu.."
Bandung, 8 April 2013
Rabu, Maret 20, 2013
Palsu
Apakah semua yang palsu adalah buruk? Tas palsumu? sepatu palsumu? Apa pula yang kau sebut KW Super sekalipun, mereka tetap palsu. Mereka dibuat bukan di tempat resminya. Lalu apa kau akan berhenti memakainya? Justru kalian menikmati kepalsuan itu bukan? Barang bagus, harga oke. Murah meriah dan tetap bisa gaya. Kenapa tidak? Mungkin sebagian besar punya toko barang palsu langganan.
Ahh, saya tidak akan membicarakan benda-benda itu. Saya terlalu muak dengan apa yang mereka sebut fesyen. Entah palsu atau asli sekalipun. Hanya karena benda-benda itu memang tidak terlalu menarik bagi saya dan saya tak mau jadi budak mereka.
Apakah kepalsuan merupakan sebuah kemunafikan yang harus dibumihanguskan?
Tawa palsumu dan senyum palsumu yang sengaja kau patri meski dalam hati yang muram. Hanya sekedar mencoba mencerahkan hati-hati lain yang terlanjur dingin oleh banyak kejahatan di bumi ini. Apakah itu sebuah kesalahan?
Senyuman palsu dari seseorang yang sedang dingin hatinya. Apakah harus kau tolak karena kau tak mau menerima hal-hal yang bersebrangan dengan hatinya? Maka lepas segala santunmu dan ramahmu yang biasanya palsu. Hal itulah yang menjijikkan.
Saya tak pernah tau mana yang benar.
Ahh, saya tidak akan membicarakan benda-benda itu. Saya terlalu muak dengan apa yang mereka sebut fesyen. Entah palsu atau asli sekalipun. Hanya karena benda-benda itu memang tidak terlalu menarik bagi saya dan saya tak mau jadi budak mereka.
Apakah kepalsuan merupakan sebuah kemunafikan yang harus dibumihanguskan?
Tawa palsumu dan senyum palsumu yang sengaja kau patri meski dalam hati yang muram. Hanya sekedar mencoba mencerahkan hati-hati lain yang terlanjur dingin oleh banyak kejahatan di bumi ini. Apakah itu sebuah kesalahan?
Senyuman palsu dari seseorang yang sedang dingin hatinya. Apakah harus kau tolak karena kau tak mau menerima hal-hal yang bersebrangan dengan hatinya? Maka lepas segala santunmu dan ramahmu yang biasanya palsu. Hal itulah yang menjijikkan.
Saya tak pernah tau mana yang benar.
Sabtu, Januari 26, 2013
Malam Random
Holaa.. Lagi hobi bengong nih. Masalah hidup saya kayanya kebanyakan deh. Pengen ngeluh tapi ya masalah-masalah itu juga ga bakal pergi kalau cuma ngeluh apalagi bengong. Cukup sadar, tapi lagi merasa tidak punya kekuatan yang cukup buat ngelepasin diri dari masalah-masalah ini. Mungkin lagi inkubasi dan re-charging. Semoga prosesnya ga lama. Amin..
Lagi gampang kecewa banget nih. Hati ini lagi gampang cracking. Dari dulu sih juga begitu. Ibarat dulu, hati ini kayak telor asin, yang sekali ketok langsung 'krek', sekarang hati ini kayak kerupuk. Ga bisa kena air, ga bisa kena udara. Sensitif. Apa sih ini? XD
Aahh.. Saya aja lagi bingung sama diri saya. Terlalu rumit buat mengurai apa sebetulnya masalah saya. Saya juga terlalu malas mengurainya. Kebayakan kecewa sama keadaan. Ditambah lagi banyak orang yang kayaknya dengan sengaja bikin hati saya rusak. Apa maksudnya? Haha.. saya lagi ga mau disalahin makanya bikin pernyataan itu. Nyebelin kan?
Ehh.. Kenapa random begini? Apa karena ragu saya sama yang udah saya lakuin? Kayaknya sih begitu. Saya bolak-balik nyesel punya harapan yang itu-itu lagi. Padahal siapa juga yang ngasih harapan. Haha.. Yang ini apa lagi coba?
Hmm.. Andai saya punya semuanya, saya mau membaginya untuk meringankan beban kami ini. Iya kami. Dalam masalah yang lain, saya sedang berbagi hal yang rumit. Andai saja ini tak pernah terjadi, mungkin lapang sekali hati saya malam ini. Saya coba bertanya pada Tuhan, kenapa Dia memberikan kami ini? Haha.. Naif sekali saya mencoba menandingi-Nya. Mungkin Tuhan menjawab "WHY NOT?"
Aakk.. Maunya tidak memposting ini. Tapi agar lebih lega malam ini. Agar bisa tidur agak nyenyak malam ini. Besok minggu. Hari pertama dalam satu minggu. Mau saya memulainya dengan hati lebih luas. Seluas bumi.
Selamat malam kamu. Bumi..
Lagi gampang kecewa banget nih. Hati ini lagi gampang cracking. Dari dulu sih juga begitu. Ibarat dulu, hati ini kayak telor asin, yang sekali ketok langsung 'krek', sekarang hati ini kayak kerupuk. Ga bisa kena air, ga bisa kena udara. Sensitif. Apa sih ini? XD
Aahh.. Saya aja lagi bingung sama diri saya. Terlalu rumit buat mengurai apa sebetulnya masalah saya. Saya juga terlalu malas mengurainya. Kebayakan kecewa sama keadaan. Ditambah lagi banyak orang yang kayaknya dengan sengaja bikin hati saya rusak. Apa maksudnya? Haha.. saya lagi ga mau disalahin makanya bikin pernyataan itu. Nyebelin kan?
Ehh.. Kenapa random begini? Apa karena ragu saya sama yang udah saya lakuin? Kayaknya sih begitu. Saya bolak-balik nyesel punya harapan yang itu-itu lagi. Padahal siapa juga yang ngasih harapan. Haha.. Yang ini apa lagi coba?
Hmm.. Andai saya punya semuanya, saya mau membaginya untuk meringankan beban kami ini. Iya kami. Dalam masalah yang lain, saya sedang berbagi hal yang rumit. Andai saja ini tak pernah terjadi, mungkin lapang sekali hati saya malam ini. Saya coba bertanya pada Tuhan, kenapa Dia memberikan kami ini? Haha.. Naif sekali saya mencoba menandingi-Nya. Mungkin Tuhan menjawab "WHY NOT?"
Aakk.. Maunya tidak memposting ini. Tapi agar lebih lega malam ini. Agar bisa tidur agak nyenyak malam ini. Besok minggu. Hari pertama dalam satu minggu. Mau saya memulainya dengan hati lebih luas. Seluas bumi.
Selamat malam kamu. Bumi..
Labels:
random
Kamis, Januari 24, 2013
Be Happy
Saya pribadi sering bingung, ada banyak orang yang motivasi hidupnya adalah membahagiakan orang tua, lalu bagaimana dengan kebahagian dirinya? Atau ambillah contoh yang lebih umum, misalnya membahgiakan orang yang dicintainya, entah itu siapa. Ada yang sibuk menjadi ini dan itu untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya itu, tapi apakah mereka sendiri benar-benar bahagia dengan menjadi ini dan itu?
Saya bukan pembenci orang tua sehingga bisa-bisanya saya ngomong seperti ini. Saya justru sangat mencintai orang tua saya dengan hati saya. Tapi saya juga mencintai diri saya. Huh? Narsis? Bukan. Ini keharusan yang artinya semua orang harus memelihara dirinya dan membuat dirinya bahagia.
Sah saja sih kalau motivasi hidup seseorang untuk membahagiakan orang yang mereka cintai, karena itu artinya hidup mereka akan tetap terus bergerak, berjalan dan dinamis karena kebahagiaan orang yang dicintainya itulah penggerak. Kehidupan setiap orang akan semakin kompleks karena semakin banyak orang yang akan mereka cintai. Misalnya, pada usia seperti saya ini, orang yang saya cintai adalah orang tua, keluarga dan pacar. Nanti di kehidupan selanjutnya saya akan mencintai anak-anak saya, cucu saya, keluarga suami dsb. Jadi motivasi saya untuk hidup akan lebih besar, karena akan lebih banyak orang yang ingin saya bahagiakan. Begitu bukan sih? Anggap saja itu benar.
Lalu kapan kita hidup untuk membahagiakan diri sendiri? Masuk akal memang jika ketika kita mampu membuat orang yang kita cintai bahagia lantas kita berbahagia. Tapi bukankah lebih masuk akal lagi jika bahagiakan diri kita lalu orang yang kita cintai akan ikut bahagia? Jadi yang harus kita kejar adalah bahagiakan diri kita. Bukan begitu?
Ehhh.. Jangan menganggap ini egois, sayang.. Ada kalanya kebahagiaan orang itu terletak pada kebahagiaan orang lain. Jadi ya betul kalau motivasi hidup mereka untuk membahagiakan orang lain, namun pada dasarnya mereka sedang membuat dirinya bahagia. Mereka mengejar kebahagiaan dirinya. Dan inilah hal yang menurut saya benar.
Ketika saya menjadi diri saya, ketika saya melakukan apa yang saya suka sesuai dengan akal sehat saya, bukan melakukan hal buruk yang saya mau, itu adalah hal yang membuat saya bahagia. Saat saya senang melakukan ini dan itu yang sebetulnya orang tua saya tidak suka pun akan tetap saya lakukan. Saya hanya tinggal membuktikan apa yang saya lakukan adalah benar. Hanya itu? Iya hanya itu. Saya percaya letak kebahagiaan orang-orang yang mencintai saya adalah ketika saya bahagia. Saya dan semua orang perlu 'bernyawa' dalam menjalani kehidupan ini. Ketika terlalu fokus untuk membahgiakan orang yang kita cintai kadang kita kita tidak peduli pada 'kebernyawaan' hidup yang sedang kita jalani. Ya, saya pikir itulah yang sering terjadi.
Nanti, suatu ketika saya kehilangan orang yang saya cintai, saya tidak terlalu patah, karena tujuan saya hidup adalah saya sendiri. Hidup saya untuk eksis di dunia di hadapan Tuhan. Kebahagiaan orang yang saya cintai pasti akan mengikuti. Ga ada yang salah mau seperti apa tujuan hidup ini. Apapun motivasi hidup kita, maka hidup kita tidak akan pernah berhenti. Meskipun seece-ece apapun itu motivasi itu.
Percayalah tulisan ini ditulis oleh orang ngelindur tak bepengetahuan dan tanpa referensi. Hanya ingin bilang "Be happy" untuk semua orang. Harap maklum.
Saya bukan pembenci orang tua sehingga bisa-bisanya saya ngomong seperti ini. Saya justru sangat mencintai orang tua saya dengan hati saya. Tapi saya juga mencintai diri saya. Huh? Narsis? Bukan. Ini keharusan yang artinya semua orang harus memelihara dirinya dan membuat dirinya bahagia.
Sah saja sih kalau motivasi hidup seseorang untuk membahagiakan orang yang mereka cintai, karena itu artinya hidup mereka akan tetap terus bergerak, berjalan dan dinamis karena kebahagiaan orang yang dicintainya itulah penggerak. Kehidupan setiap orang akan semakin kompleks karena semakin banyak orang yang akan mereka cintai. Misalnya, pada usia seperti saya ini, orang yang saya cintai adalah orang tua, keluarga dan pacar. Nanti di kehidupan selanjutnya saya akan mencintai anak-anak saya, cucu saya, keluarga suami dsb. Jadi motivasi saya untuk hidup akan lebih besar, karena akan lebih banyak orang yang ingin saya bahagiakan. Begitu bukan sih? Anggap saja itu benar.
Lalu kapan kita hidup untuk membahagiakan diri sendiri? Masuk akal memang jika ketika kita mampu membuat orang yang kita cintai bahagia lantas kita berbahagia. Tapi bukankah lebih masuk akal lagi jika bahagiakan diri kita lalu orang yang kita cintai akan ikut bahagia? Jadi yang harus kita kejar adalah bahagiakan diri kita. Bukan begitu?
Ehhh.. Jangan menganggap ini egois, sayang.. Ada kalanya kebahagiaan orang itu terletak pada kebahagiaan orang lain. Jadi ya betul kalau motivasi hidup mereka untuk membahagiakan orang lain, namun pada dasarnya mereka sedang membuat dirinya bahagia. Mereka mengejar kebahagiaan dirinya. Dan inilah hal yang menurut saya benar.
Ketika saya menjadi diri saya, ketika saya melakukan apa yang saya suka sesuai dengan akal sehat saya, bukan melakukan hal buruk yang saya mau, itu adalah hal yang membuat saya bahagia. Saat saya senang melakukan ini dan itu yang sebetulnya orang tua saya tidak suka pun akan tetap saya lakukan. Saya hanya tinggal membuktikan apa yang saya lakukan adalah benar. Hanya itu? Iya hanya itu. Saya percaya letak kebahagiaan orang-orang yang mencintai saya adalah ketika saya bahagia. Saya dan semua orang perlu 'bernyawa' dalam menjalani kehidupan ini. Ketika terlalu fokus untuk membahgiakan orang yang kita cintai kadang kita kita tidak peduli pada 'kebernyawaan' hidup yang sedang kita jalani. Ya, saya pikir itulah yang sering terjadi.
Nanti, suatu ketika saya kehilangan orang yang saya cintai, saya tidak terlalu patah, karena tujuan saya hidup adalah saya sendiri. Hidup saya untuk eksis di dunia di hadapan Tuhan. Kebahagiaan orang yang saya cintai pasti akan mengikuti. Ga ada yang salah mau seperti apa tujuan hidup ini. Apapun motivasi hidup kita, maka hidup kita tidak akan pernah berhenti. Meskipun seece-ece apapun itu motivasi itu.
Percayalah tulisan ini ditulis oleh orang ngelindur tak bepengetahuan dan tanpa referensi. Hanya ingin bilang "Be happy" untuk semua orang. Harap maklum.
Minggu, Januari 20, 2013
Sederhana Cinta
Saat penulis menyederhanakan frase agar tulisannya menjadi lebih indah, saya juga ingin mulai menyederhanakan sesuatu. Menyederhanakan cinta saya. Saya pikir cinta saya ini terlalu rumit untuk dimengerti. Bahkan mungkin tidak ada yang mau mengerti karena terlalu berbelit.
Menyederhanakan cinta dengan menerima cinta apa yang ada. Menerimanya dengan utuh tanpa pengecualian bahkan tanpa syarat. Dalam perjalanan menyederhanakan cinta ini, saya bukan bebas keluhan. Terkadang saya masih berharap ini-itu atau sesuatu yang besar bisa terjadi. Bukan ingin letupan penuh getaran tapi berharap cinta ini layak seperti yang orang lain lihat.
Biarkanlah kami tidak sama. Dan mengapa juga kita harus sama. Kita hanya perlu sesederhana itu dalam mencintai. Aku, kamu, dia dan kita semua menerima satu sama lain. Bukan hanya kekurangan tapi juga kelebihannya. Ya, saya terpaksa menukar kekurangan sebelum kelebihan. Coba renungkan, terkadang kita dibutakan kelebihan yang sebetulnya hanya melenakan mata tapi tidak memberi arti dan sebaliknya.
Menyederhanakan cinta bukan dalam rangka mengerdilkan cinta atau melebih-lebihkan sesuatu yang harusnya tidak ada. Cinta terlalu mewah untuk dirayakan dalam gepita. Menyederhanakan cinta dalam rangka memanusiakan manusia, bukan mendewakan.
Biarkan cinta itu sederhana namun utuh juga abadi.
Untuk ibu, ayah, lita, afif, ahmad dan dia yang namanya ada di lauhilmahfuz :)
Menyederhanakan cinta dengan menerima cinta apa yang ada. Menerimanya dengan utuh tanpa pengecualian bahkan tanpa syarat. Dalam perjalanan menyederhanakan cinta ini, saya bukan bebas keluhan. Terkadang saya masih berharap ini-itu atau sesuatu yang besar bisa terjadi. Bukan ingin letupan penuh getaran tapi berharap cinta ini layak seperti yang orang lain lihat.
Biarkanlah kami tidak sama. Dan mengapa juga kita harus sama. Kita hanya perlu sesederhana itu dalam mencintai. Aku, kamu, dia dan kita semua menerima satu sama lain. Bukan hanya kekurangan tapi juga kelebihannya. Ya, saya terpaksa menukar kekurangan sebelum kelebihan. Coba renungkan, terkadang kita dibutakan kelebihan yang sebetulnya hanya melenakan mata tapi tidak memberi arti dan sebaliknya.
Menyederhanakan cinta bukan dalam rangka mengerdilkan cinta atau melebih-lebihkan sesuatu yang harusnya tidak ada. Cinta terlalu mewah untuk dirayakan dalam gepita. Menyederhanakan cinta dalam rangka memanusiakan manusia, bukan mendewakan.
Biarkan cinta itu sederhana namun utuh juga abadi.
Untuk ibu, ayah, lita, afif, ahmad dan dia yang namanya ada di lauhilmahfuz :)
Sabtu, Januari 12, 2013
Sepi dan Rumpi
Dua minggu ke belakang kayanya suntuk sekali. Sampai saat ini juga masih suntuk. MUNGKIN karena tugas suci. Mungkin karena tugas itu jadi tidak suci lagi karena kebanyakan terjamah. Dapet wewejangan dari banyak orang, dari orang tua, temen sampai dari si subjek penelitian saya untuk selalu semangat. Baiklah.. Memang selalu semangat tapi jadi angon-angonan karena ada faktor-faktor yang bikin badmood. Tugas-tugas sih pasti akan selalu dikerjain, karena mengingat itu suatu kewajiban. Ya.. asal fokus, alon-alon asal kelakon. Bokap jadi sering melihat saya dengan pandangan sedih, mungkin saya kelihatan capek dan lingkar hitam mata sudah kekal abadi jadi polesan muka saya. Tambah kiyut atau..
Well, di sela keseringan saya bengong dan banyak pikiran, kadang ada yang datang tanpa saya undang. Hal ini sering terjadi, tapi ga pernah saya tanggapi. Sudah beberapa hari ini, setiap ke kamar mandi selalu ada yang ikut. Dia main-main di lampu jadi seperti ada laron yang muter-muter di lampu. Saya bilang, kalau lampun redup-terang terus seperti itu saya pusing seperti sedang vertigo. Lalu dia pergi, mungkin tidak pergi tapi berhenti bermain dengan lampu. Atau jadi ada yang sering nongol di jendela waktu saya begadang untuk nugas. Matanya ga ngeliatin saya, tapi saya biarkan dia disitu samapi dia pergi. Dan malah jadi ada yang suka ikut nugas di komputer ruang tengah atas. Suara ketikannya jauh lebih mahir dari ketikan yang saya lakukan. Baiklah.. semua baik tapi tak ada satupun yang saya kenal. Mungkin keberadaan mereka untuk nemenin saya. Niat mereka baik.
Kembali ke rutinitas. Kewajiban yang sedang saya lakoni saat ini bikin ga eksis di dunia nyata. Ga heran gitu ya sekarang itu jadi agak putihan, karna emang jarang banget-nget-nget keluar rumah. Tidak terkurung pada ruangan saja sih, tapi juga terkungkung pada suatu ruang pikiran yang membuat pikiran ga maju-maju. Mandek, tjoy! Kadang sering merasa jadi orang kesepian. Hampir semua orang tau saya ratu ngomong. Ngomooong melulu. Giliran kesepian kaya gini, rasanya rahang pegel pengen dipijet. Gatel aja pengen diskusi ini itu XP
Akhirnya coba eksis aja di dunia maya. Mulai ngomong-ngomong masalah sepele sampai serius. Biar rileks gitu ga melulu mikir kewajiban. Tapi apalah daya, ngobrol di dunia maya itu sama sekali ga nampol. Limited! Ternyata lebih capek ngetik dibanding ngoceh. Betul tidak? X)) Baru sadar, ternyata kebutuhan ngobrol adalah kebutuhan penting buat makhluk sosial seperti kita ini. Rasanya kalau ga ngobrol itu hampa. Ya meskipun ngobrol sama emak ga pernah absen tapi butuh gitu lho ngerumpi sama temen. Tukar info ini itu termasuk info gosip terhangat. Bleh! Oh.. temen-temen rumpi saya itu sejenis malaikat lah X)
Mungkin juga teman saya yang lain pada punya telepati yang bagus gitu ya ke saya. Belakangan ini jadi sering ada yang nanya kabar meski lewat sms lalu di lanjut menelpon. Ya lumayan temen ngobrol meskipun ga ketemu langsung. Tapi abis nelpon pasti langsung nagih ketemu biar lebih puas gitu ngobrolnya. Eaa..
Salam rumpi!
Well, di sela keseringan saya bengong dan banyak pikiran, kadang ada yang datang tanpa saya undang. Hal ini sering terjadi, tapi ga pernah saya tanggapi. Sudah beberapa hari ini, setiap ke kamar mandi selalu ada yang ikut. Dia main-main di lampu jadi seperti ada laron yang muter-muter di lampu. Saya bilang, kalau lampun redup-terang terus seperti itu saya pusing seperti sedang vertigo. Lalu dia pergi, mungkin tidak pergi tapi berhenti bermain dengan lampu. Atau jadi ada yang sering nongol di jendela waktu saya begadang untuk nugas. Matanya ga ngeliatin saya, tapi saya biarkan dia disitu samapi dia pergi. Dan malah jadi ada yang suka ikut nugas di komputer ruang tengah atas. Suara ketikannya jauh lebih mahir dari ketikan yang saya lakukan. Baiklah.. semua baik tapi tak ada satupun yang saya kenal. Mungkin keberadaan mereka untuk nemenin saya. Niat mereka baik.
Kembali ke rutinitas. Kewajiban yang sedang saya lakoni saat ini bikin ga eksis di dunia nyata. Ga heran gitu ya sekarang itu jadi agak putihan, karna emang jarang banget-nget-nget keluar rumah. Tidak terkurung pada ruangan saja sih, tapi juga terkungkung pada suatu ruang pikiran yang membuat pikiran ga maju-maju. Mandek, tjoy! Kadang sering merasa jadi orang kesepian. Hampir semua orang tau saya ratu ngomong. Ngomooong melulu. Giliran kesepian kaya gini, rasanya rahang pegel pengen dipijet. Gatel aja pengen diskusi ini itu XP
Akhirnya coba eksis aja di dunia maya. Mulai ngomong-ngomong masalah sepele sampai serius. Biar rileks gitu ga melulu mikir kewajiban. Tapi apalah daya, ngobrol di dunia maya itu sama sekali ga nampol. Limited! Ternyata lebih capek ngetik dibanding ngoceh. Betul tidak? X)) Baru sadar, ternyata kebutuhan ngobrol adalah kebutuhan penting buat makhluk sosial seperti kita ini. Rasanya kalau ga ngobrol itu hampa. Ya meskipun ngobrol sama emak ga pernah absen tapi butuh gitu lho ngerumpi sama temen. Tukar info ini itu termasuk info gosip terhangat. Bleh! Oh.. temen-temen rumpi saya itu sejenis malaikat lah X)
Mungkin juga teman saya yang lain pada punya telepati yang bagus gitu ya ke saya. Belakangan ini jadi sering ada yang nanya kabar meski lewat sms lalu di lanjut menelpon. Ya lumayan temen ngobrol meskipun ga ketemu langsung. Tapi abis nelpon pasti langsung nagih ketemu biar lebih puas gitu ngobrolnya. Eaa..
Salam rumpi!
Pada suatu keyakinan
Mengapa kau pernah yakin pada suatu hal yang sebetulnya tidak pernah kau tau apa hal itu sebenarnya? Seperti ketika kau meyakini cinta yang kau genggam adalah benar milikmu selamanya? Karena rasa? Atau lebih rumit dari itu, sampai kau tak bisa menerjemahkannya?
Padamu, ingin kusampaikan kisah ini.
Jika dalam drama, saya ada dalam dua peran. Antagonis dan protagonis. Pada suatu ketika saya melawan segala gerak maju untuk mengangkasakan ego dan kadang saya hanyut dalam aliran sungai cerita hingga tenggelam dan bermuaravpada tempat yang tidak saya kenal. Bukankan itulah anti dan pro? Semua berlawanan.
Semua tampak membingungkan saya. Tampak sah saja saya lakukan untuk merebut sesuatu yang saya yakini. Bahkan saya sendiri tidak tau kebenaran yang saya yakini. Sampai pada hari yakin itu saya genggam, dengan berharap semua itu indah, karena yang saya lihat adalah indah.
Pernahkan saya peduli pada apa yang saya genggam hingga saya pernah ragu? Tidak pernah. Namun pada suatu ketika, saya peduli pada yang saya injak. Saya mulai ragu. Pada sebuah dasar lunak yang selalu berhasil menopang saya. Apakah itu akan selamanya dapat menopang? Bahkan pada kerasnya mamer saya bisa terjatuh. Luka, atau paling tidak memar.
Di awal keraguan pada apa yang saya genggam, dengan egoisnya akan saya genggam yakin itu. Tak peduli semua yang mencemooh saya. Saya berdoa dalam hujan, dalam fajar, senja dan dalam pekat malam, agar benar apa kira saya pada yakin itu. Bodoh? Mungkin!
Saya tak takut salah. Saya tak takut terluka. Saya tak takut apapun. Saya menikmati yakin ini. Meski hanya dua malam, dua jam atau dua detik sekalipun. Dalam doa di waktu-waktu yang lain, saya meminta agar ini bisa bertahan agak lama meskipun ternyata apa yang saya yakini adalah salah.
Yakin ini terlalu indah untuk saya yakini.
-
-
-
-
Padamu, ingin kusampaikan kisah ini.
Jika dalam drama, saya ada dalam dua peran. Antagonis dan protagonis. Pada suatu ketika saya melawan segala gerak maju untuk mengangkasakan ego dan kadang saya hanyut dalam aliran sungai cerita hingga tenggelam dan bermuaravpada tempat yang tidak saya kenal. Bukankan itulah anti dan pro? Semua berlawanan.
Semua tampak membingungkan saya. Tampak sah saja saya lakukan untuk merebut sesuatu yang saya yakini. Bahkan saya sendiri tidak tau kebenaran yang saya yakini. Sampai pada hari yakin itu saya genggam, dengan berharap semua itu indah, karena yang saya lihat adalah indah.
Pernahkan saya peduli pada apa yang saya genggam hingga saya pernah ragu? Tidak pernah. Namun pada suatu ketika, saya peduli pada yang saya injak. Saya mulai ragu. Pada sebuah dasar lunak yang selalu berhasil menopang saya. Apakah itu akan selamanya dapat menopang? Bahkan pada kerasnya mamer saya bisa terjatuh. Luka, atau paling tidak memar.
Di awal keraguan pada apa yang saya genggam, dengan egoisnya akan saya genggam yakin itu. Tak peduli semua yang mencemooh saya. Saya berdoa dalam hujan, dalam fajar, senja dan dalam pekat malam, agar benar apa kira saya pada yakin itu. Bodoh? Mungkin!
Saya tak takut salah. Saya tak takut terluka. Saya tak takut apapun. Saya menikmati yakin ini. Meski hanya dua malam, dua jam atau dua detik sekalipun. Dalam doa di waktu-waktu yang lain, saya meminta agar ini bisa bertahan agak lama meskipun ternyata apa yang saya yakini adalah salah.
Yakin ini terlalu indah untuk saya yakini.
-
-
-
-
Langganan:
Postingan (Atom)