Kamis, Januari 24, 2013

Be Happy

Saya pribadi sering bingung, ada banyak orang yang motivasi hidupnya adalah membahagiakan orang tua, lalu bagaimana dengan kebahagian dirinya? Atau ambillah contoh yang lebih umum, misalnya membahgiakan orang yang dicintainya, entah itu siapa. Ada yang sibuk menjadi ini dan itu untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya itu, tapi apakah mereka sendiri benar-benar bahagia dengan menjadi ini dan itu?

Saya bukan pembenci orang tua sehingga bisa-bisanya saya ngomong seperti ini. Saya justru sangat mencintai orang tua saya dengan hati saya. Tapi saya juga mencintai diri saya. Huh? Narsis? Bukan. Ini keharusan yang artinya semua orang harus memelihara dirinya dan membuat dirinya bahagia.

Sah saja sih kalau motivasi hidup seseorang untuk membahagiakan orang yang mereka cintai, karena itu artinya hidup mereka akan tetap terus bergerak, berjalan dan dinamis karena kebahagiaan orang yang dicintainya itulah penggerak. Kehidupan setiap orang akan semakin kompleks karena semakin banyak orang yang akan mereka cintai. Misalnya, pada usia seperti saya ini, orang yang saya cintai adalah orang tua, keluarga dan pacar. Nanti di kehidupan selanjutnya saya akan mencintai anak-anak saya, cucu saya, keluarga suami dsb. Jadi motivasi saya untuk hidup akan lebih besar, karena akan lebih banyak orang yang ingin saya bahagiakan. Begitu bukan sih? Anggap saja itu benar.

Lalu kapan kita hidup untuk membahagiakan diri sendiri? Masuk akal memang jika ketika kita mampu membuat orang yang kita cintai bahagia lantas kita berbahagia. Tapi bukankah lebih masuk akal lagi jika bahagiakan diri kita lalu orang yang kita cintai akan ikut bahagia? Jadi yang harus kita kejar adalah bahagiakan diri kita. Bukan begitu?

Ehhh.. Jangan menganggap ini egois, sayang.. Ada kalanya kebahagiaan orang itu terletak pada kebahagiaan orang lain. Jadi ya betul kalau motivasi hidup mereka untuk membahagiakan orang lain, namun pada dasarnya mereka sedang membuat dirinya bahagia. Mereka mengejar kebahagiaan dirinya. Dan inilah hal yang menurut saya benar.

Ketika saya menjadi diri saya, ketika saya melakukan apa yang saya suka sesuai dengan akal sehat saya, bukan melakukan hal buruk yang saya mau, itu adalah hal yang membuat saya bahagia. Saat saya senang melakukan ini dan itu yang sebetulnya orang tua saya tidak suka pun akan tetap saya lakukan. Saya hanya tinggal membuktikan apa yang saya lakukan adalah benar. Hanya itu? Iya hanya itu. Saya percaya letak kebahagiaan orang-orang yang mencintai saya adalah ketika saya bahagia. Saya dan semua orang perlu 'bernyawa' dalam menjalani kehidupan ini. Ketika terlalu fokus untuk membahgiakan orang yang kita cintai kadang kita kita tidak peduli pada 'kebernyawaan' hidup yang sedang kita jalani. Ya, saya pikir itulah yang sering terjadi.

Nanti, suatu ketika saya kehilangan orang yang saya cintai, saya tidak terlalu patah, karena tujuan saya hidup adalah saya sendiri. Hidup saya untuk eksis di dunia di hadapan Tuhan. Kebahagiaan orang yang saya cintai pasti akan mengikuti. Ga ada yang salah mau seperti apa tujuan hidup ini. Apapun motivasi hidup kita, maka hidup kita tidak akan pernah berhenti. Meskipun seece-ece apapun itu motivasi itu.

Percayalah tulisan ini ditulis oleh orang ngelindur tak bepengetahuan dan tanpa referensi. Hanya ingin bilang "Be happy" untuk semua orang. Harap maklum.

Tidak ada komentar: