Piye kabare?
Ehem. Ada beberapa bagian hidup yang rasanya sulit untuk kita terima dengan baik. Bukan karena kita tak mengerti jika bagian itu harusnya kita jalani saja dan bagian itu akan berlalu karena tertelan masa. Tapi bisa kah mengerti apa makna dibalik menjalani? Penuh teka-teki di balik kata 'menjalani', yaitu bagaimana bisa setiap orang mampu berjuang menerima, dan membuat segalanya menjadi lebih baik.
Semudah apa orang dapat menerima apa-apa yang Tuhan berikan pada mereka? Kita boleh saja menganggap apa yang orang lain alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sedang kita terima. Namun, dibalik itu semua, setiap manusia memiliki kondisi mental, dan pengalaman yang berbeda mengenai hidup. Bisa jadi masalah itu terkesan ringan (untuk kita), tapi kita tak pernah tau apa yang sesungguhnya mereka rasakan, juga kita tak pernah tahu bagaimana mereka berjuang untuk menyelesaikan segalanya dengan pengalaman yang mereka miliki.
Ten, ngomongin hidup lagi?
Haha.. Saya terlalu naif memandangi masalah-masalah yang mampir silih berganti di hidup saya. Muak? Ah, masalah saya bukan apa-apa dibanding dengan monyet-monyet yang harus bekerja dan disiksa, dan sukurnya, kini mereka resign dari pekerjaannya karena Jowoki harus "membersihkan" mereka dari jalanan ibu kota.
Lalu, mengapa bicara tentang masalah lagi?
Hmm.. Saya mau membuka diri lebih lebar lagi, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk mencerca apa-apa cobaan yang Tuhan berikan pada kita. Semisal motor yang mogok ketika kita harus segera mungkin tiba di suatu tempat. Memaki? Ya, memaki mesin yang berhenti menderu, padahal selalu ada campur tangan yang lain di balik itu semua.
Bukan sekedar masalah itu, tetapi juga tentang bagaimana mulai membuka mata dengan lebar bahwa kita tak lebih dari manusia biasa. Kita lahir tanpa agama, bahkan tanpa ingat pada siapa dulu kita pernah berjanji tak akan selalu beriman. Hidup buka sekedar menerima, tapi juga menuntut apa yang mau kita dapat. Dalam ilmu agama kita harus menerima, tapi lupakah kita bahwa agama menyuruh kita berusaha? Dalam banyak perkara, kita lupa menerima, lupa berusaha, padahal itu yang harus kita perbuat.
Sudah, Ten.. Sudah!
Belum! Masih juga gemas bagaimana saya harus bisa memahami hal-hal di balik sesuatu. Kenapa orang mengemis, kenapa orang jadi banci, kenapa orang dipecat, kenapa orang bisa diselingkuhi, kenapa orang tuanya bercerai, kenapa anak itu putus sekolah dan lainnya. Emosi paling sederhana ialah rasa simpati pada mereka. Tapi jika kita paham bagaimana memaknai segalanya, kita akan lebih baik menilai, lebih tepat memilih "bagaimana mengasihani" mereka.
Omonganmu makin kacau, Ten..
Ya, saya memang terlalu kacau dengan mencoba bijak dengan prahara-prahara yang sedang saya alami. Silakan menilai saya adalah drama queen, layaknya selebritis hilang popularitas yang cari sensasi dengan poto telanjang. Semacam itu memang. Naif.