Tampilkan postingan dengan label curhat maning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat maning. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 23, 2013

Gemas

Piye kabare?

Ehem. Ada beberapa bagian hidup yang rasanya sulit untuk kita terima dengan baik. Bukan karena kita tak mengerti jika bagian itu harusnya kita jalani saja dan bagian itu akan berlalu karena tertelan masa. Tapi bisa kah mengerti apa makna dibalik menjalani? Penuh teka-teki di balik kata 'menjalani', yaitu bagaimana bisa setiap orang mampu berjuang menerima, dan membuat segalanya menjadi lebih baik.

Semudah apa orang dapat menerima apa-apa yang Tuhan berikan pada mereka? Kita boleh saja menganggap apa yang orang lain alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sedang kita terima. Namun, dibalik itu semua, setiap manusia memiliki kondisi mental, dan pengalaman yang berbeda mengenai hidup. Bisa jadi masalah itu terkesan ringan (untuk kita), tapi kita tak pernah tau apa yang sesungguhnya mereka rasakan, juga kita tak pernah tahu bagaimana mereka berjuang untuk menyelesaikan segalanya dengan pengalaman yang mereka miliki.

Ten, ngomongin hidup lagi?

Haha.. Saya terlalu naif memandangi masalah-masalah yang mampir silih berganti di hidup saya. Muak? Ah, masalah saya bukan apa-apa dibanding dengan monyet-monyet yang harus bekerja dan disiksa, dan sukurnya, kini mereka resign dari pekerjaannya karena Jowoki harus "membersihkan" mereka dari jalanan ibu kota.

Lalu, mengapa bicara tentang masalah lagi?

Hmm.. Saya mau membuka diri lebih lebar lagi, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk mencerca apa-apa cobaan yang Tuhan berikan pada kita. Semisal motor yang mogok ketika kita harus segera mungkin tiba di suatu tempat. Memaki? Ya, memaki mesin yang berhenti menderu, padahal selalu ada campur tangan yang lain di balik itu semua.

Bukan sekedar masalah itu, tetapi juga tentang bagaimana mulai membuka mata dengan lebar bahwa kita tak lebih dari manusia biasa. Kita lahir tanpa agama, bahkan tanpa ingat pada siapa dulu kita pernah berjanji tak akan selalu beriman. Hidup buka sekedar menerima, tapi juga menuntut apa yang mau kita dapat. Dalam ilmu agama kita harus menerima, tapi lupakah kita bahwa agama menyuruh kita berusaha? Dalam banyak perkara, kita lupa menerima, lupa berusaha, padahal itu yang harus kita perbuat.

Sudah, Ten.. Sudah!

Belum! Masih juga gemas bagaimana saya harus bisa memahami hal-hal di balik sesuatu. Kenapa orang mengemis, kenapa orang jadi banci, kenapa orang dipecat, kenapa orang bisa diselingkuhi, kenapa orang tuanya bercerai, kenapa anak itu putus sekolah dan lainnya. Emosi paling sederhana ialah rasa simpati pada mereka. Tapi jika kita paham bagaimana memaknai segalanya, kita akan lebih baik menilai, lebih tepat memilih  "bagaimana mengasihani" mereka.

Omonganmu makin kacau, Ten..

Ya, saya memang terlalu kacau dengan mencoba bijak dengan prahara-prahara yang sedang saya alami. Silakan menilai saya adalah drama queen, layaknya selebritis hilang popularitas yang cari sensasi dengan poto telanjang. Semacam itu memang. Naif.


Jumat, Oktober 28, 2011

GALAU U U U U :D

Di tengah galau ini #apadeh!

Bulan-bulan belakangan ini ga kaya bulan-bulan biasanya. Biasanya jadwal padat merayap kaya semut berjejer ngantri masuk lobang dan bulan-bulan belakangan ini -saya yang biasanya pecicilan- terpaksa banyak nganggur, banyak haha-hihi ga karuan. Alias ber-geje-geje jaya! Dengan sok-nya saya bilang ke orang-orang saya pengen deh sibuk kaya dulu. Eh, emang bener sih, mending sibuk beneran daripada sok sibuk kaya saya sekarang ini. Katanya sibuk skripsi tapi skripsi juga ga kegarap-garap :p

Terpaksa ya buang-buang energi ke tempat-tempat hiburan lagi. Karoke lagi, kokem lagi, mall lagi! Duit habis ga nyisa! Tinggal aja mungutin receh-receh di bawah kolong tempat tidur. Lumayan dapet enamribu perak buat jajan di alfamart. Sibuk pilih-pilih minuman dingin, dan sampe kasir nyengir "maaf ya mba, duitnya receh gini, abis bongkar celengan sih".

Kegiaan lain? hmm.. ngeceng cowo cakep kali ya. Awalnya ke perpustakaan cari-cari referensi buat skripsi (lagi-lagi itu). Tapi berhubung kurang minat liat-liat buku berdebu, lusuh dan tebelnya (amit-amit) bisa buat nimpuk anjing, jadi.. langsung aja keluar perpustakaan penuh dengan perasaan lega. Pas nengok jam tangan, ternyata saya ada di perpustakaan cuma 5 menit aja, sodara-sodara.. Sisa waktunya, siap-siap cari posisi paling asik di tangga masuk perpustakaan itu yang mirip tribun. Karna itu tangga emang bener-bener mirip tribun, jadi setiap ada orang yang lewat bisa keliatan dari situ. Hmm.. rejeki banget kalo yang lalu-lalang disitu agak seger :)

Pulang ke rumah, langsung nyalain PC sama nyolokin modem. Inet udah konek, langsung cek timeline twitter (nengok gosip, sodara..), buka fesbuk (tentu ngegosip juga, sodara) dan download apapun yang oke buat didownload :D

Sekian galau saya XP

Selasa, Maret 22, 2011

WAR

Saya terhimpit pada situasi-situasi sulit, padahal saya sering mengalami hal ini dan menjalaninya. Sejauh ini saya sudah melewatinya dengan baik meski dengan halangan dan tantangan, saya coba menjwab itu semua dengan kemampuan dan pengalaman saya.

Semua hal seperti baik-baik saja diawal, tapi belakangan ini, konflik itu bermunculan. Saya merasa entah berada di titik yang mana, yang jelas garis finish-nya masih begitu jauh dan saya bisa bilang begitu karena saya belum melihat apa-apa untuk mencapai itu.

Lalu saya me-recall kembali cara saya mengatasi hal-hal tersebut. Saya cenderung membuat pola dan alternatif yang sama atas problematika yang dulu saya alami. Konflik terjadi lagi dan saya tidak cukup kreatif untuk membuat perencanaan matang untuk mengimbangi situasi yang semakin memburuk. Saya bimbang, kepercayaan diri saya mengalami krisis.

Saya coba mencari-cari apa yang sedang saya alami. Saya mulai kehilangan arah, tapi berusaha untuk tetap berdiri pada posisinya. Saya sering kehabisan tenaga dan mulai menghilang. Saya berusaha muncul kembali dan berjalan tertatih. Saya mencari kebahagian itu dan hidup dalam bahagia.

Saya rasa, saya ingin pergi. Tapi saya tersadarkan oleh peran saya yang lain, dan keharusan apa yang sedang saya jalani. Saya mulai mebebankan mereka dalam pikiran saya. Dan saya ingin sekali memakinya agar mereka tidak kerasan dalam pikiran saya “Sial kau semua!”. Sayang, mereka tak mau kunjung pergi.

Kembali saya posisikan diri sebagai orang yang yang bahagia, namun saya sebenarnya menangis di balik topeng bahagia itu. Saya tidak benar-benar bahagia dan situasi ini semakin menjepit. “Oh tidakkk, saya benar-benar harus menyelsaikan ini!” Bukan dengan denail, atau merepress semua ke alam bawah sadar, tapi menariknya dan menghadapinya. Bukan dengan tameng tapi dengan samurai. Saya pikir, saya begitu gagah. Kepercayaan diri saya berangsur pulih.

Kini saya sedang berperang. Saya terus berdebat dengan masa lalu, masa depan juga masa kini. Saya tak tahu kapan waktunya menang. Perang sudah lama berlangsung tapi saya baru memulai. Saya hanya ingin menang!

Cinta Bersyarat

Selamat datang di dunia paling nyata dari dunia yang bisa kau sebut dunia cinta.

Semua orang paham bahwa cinta selalu nyata tapi abstrak dan selalu tulus meski bersyarat. Saat seseorang merasa bahagia dengan orang yang dicintainya meskipun ada ketentuan dibalik itu. Misalnya, saya mencintainya (atau sebaliknya) karena dia memiliki hal yang baik seperti duit yang banyak atau karena masih virgin.

Saat nanti saya (misalnya) menjadi seorang janda, apakan saya masih pantas untuk dicintai? Mungkin sebagian orang lain menganggap mencintai janda bukan hal mudah, paling tidak orang yang mencintai saya nanti akan punya beban untuk membina hubungan dengan saya. Tentu berkaitan dengan status, urusan keuangan dan lain sebagainya.

Bolehkan saya berhenti mencintai seseorang? Saat (misalnya), kelak pasangan saya sudah tidak lagi bisa menafkahi saya atau syarat untuk mencintai saya dulu sudah hilang? Lalu dia akan saya campakkan begitu saja tampa ampun dan penghargaan? Naif sekali bukan?

Karena cinta tidak bersyarat dan berhentilah mencari kesempurnaan.

Sesekali saya membayangkan, saat saya berhenti dicintai karena saya telah hilang syarat untuk dicintai. Saat saya tidak cantik dan tidak punya uang lagi, misalnya. Saya harus menerima itu dan coba bayangkan betapa menyakitkannya itu? Berhenti dicintai dan mencintai karena hilang syarat. Rasanya sama seperti paru-paru dikeluarkan dari rongganya. Hilang alat vital berarti sekarat dan hampir mati.

Dalam tulisan ini, saya benar-benar tidak ingin menyalahkan siapapun yang telah mencintai seseorang dengan syarat seperti yang telah saya bilang. Semua orang berhak membuat kriteria dan persyaratan untuk mencintai dan menjadikan orang manapun untuk jadi pasangan hidupnya, namun saja cinta bersyarat tidak akan membawa cinta pada tujuannya.

Silakan tarik kesimpulan. Dan jalani cinta sebaik-baiknya. Pahamilah, persyaratan cinta yang telah dibuat hanya akan membawa cinta pada persyaratan itu saja. Cinta hanya butuh pertimbangan, bukan alasan. Hanya tinggal bicarakan dan jalani saja. Simple tapi rumit.

Lalu, bagaimana menjadikan diri untuk (bukan sekedar) pantas dicintai tanpa syarat?

Kamis, Agustus 26, 2010

MAD

Hari ini, saya berkali-kali harus berdamai dengan marah. Ingin sekali rasanya mematahkan banyak batang leher orang. Tapi apa daya tanganku "buntung", marah ini saya simpan sampai geraham saja, biar dia bermeletuk hebat, mungkin dia yang akan segera patah.

Kata Rasul, orang yang bisa menahan marah adalah orang yang kuat. Tapi saya bukan orang kuat. Saya hanya terlalu bodoh untuk melampiaskannya. Saya tak tau bagaimana marah, saya kembali diam dan berdamai dengan marah.

Kalau kata ibu, apa guna marah? marah tidak menyelesaikan apa-apa. Terkadang saya setuju, tapi saya sering tak setuju. Marah, itu melampiaskan kesal, tapi menurut ibuku, marah itu lebih baik diam.

Kenapa saya marah? kenapa orang marah? Kata ayah saya, jangan pernah hiraukan semua hal di luar jangkauan. Mungkin ada banyak hal diluar jangkauan yang tidak bisa saya atau orang lain lakukan, makanya saya dan mereka marah. Saya mengerti, tapi saya tak mau peduli hal itu!

Mereka selalu marah, kenapa saya tidak boleh? Haruskah saya menjadi pihak yang selalu sabar? Mungkin hanya saya yang tidak boleh mengeluh ini dan itu, dan mereka boleh! Lalu saya yang harus diam. Lalu saya yang harus selalu sabar. Saya selalu sanggup diam, tapi saya tak pernah sanggup menahan. Apa harus saya menjadi seorang pendendam? Saya minta maaf..

Kamis, Juli 29, 2010

Kalau tak mampu berdiri, mengakulah tak mampu. Jangan berdiri pura-pura mampu, karna kakimu sendiri yang akan menjatuhkanmu.

Seperti saat kau melindungi dirimu dari percikan air, padahal kau sudah kuyup. Seperti bicaramu yang terlalu sengaja kau jaga, padahal kau sudah jauh tenggelam dalam kebohonganmu.

Juga untuk ketakutanmu yang sengaja kau tutupi. Kesalahan orang lain kau umbar untuk menutupi ulah konyolmu. Lalu apa bedanya kau dengan PENGECUT?

Sombong dengan berdiri diatas batu besar, padahal batumu kosong.. Bangga dengan ucapmu yang menggema-gema, padahal omongmu bohong.

Ingin tertawa. ya.. menertawakanmu!!

Jumat, Juni 25, 2010

kehilangan dan belajar ikhlas

Kehilangan sesuatu dan belajar ikhlas itu amat besar kaitannya.

Saya bersalah. sudah 2 handphone pemberian orang tua saya hilangkan! ahh.. hari ini kenapa begitu malang nasib saya. Hape raib dan satu mata kuliah "diberitakan" BL, alias belom lengkap!! aih.. hari ini kenapa panas sekali :'(

Masih segar dalam ingatan, pagi-pagi neng Agi ngirim sms "nten.. S*P kamu BL say!". Hati rasanya kebat-kebit ga karuan. Apa ni pagi-pagi udah ada masalah, masalah kuliah lagi, rasanya dengkul lemes kalo masalahnya itu masalah kuliah. Berasa pengen mati ketiban duren!

Neng Agi menyarankan untuk nelpon dosen. Dosennya bilang ada nilai yang belum masuk, padahal bisa saya pastikan saya udah nyetorin nilai saya ke KM, tapi mungkin ada kesalahan teknis. Saya pasrah dengan berurai air mata.

Masih di pagi yang sama dan waktu yang sama. Di meja biasa saya simpan charger hape, tiba-tiba kosong, ga ada bekasnya! Sembari marah-marah cari charger hape, sembari ngutuk-ngutuk nilai BL kayanya muka saya penuh dengan kerutan dan sangat jelek.

Sore harinya (jreng..jreng..jreng) apes belom abis, hape lowbat dicopet juga! Sengaja ditelponin hape saya itu, sama pelaku ga diangkat, eh.. malah ngirim sms belagak pilon nemuin tu hape dijalan. Saya minta balikin tuh hape, eh.. seenak bujelnya dia bilang "ah.. teu ah, sieun maneh bawa-bawa polisi"! Woy, ngaku nemu kenapa takut polisi? dasar copet amtir! *ngepet lu ah!!

Kayanya total -berapa kali saya mewek hari ini- ga bisa diitung jari. Saya terlalu sedih sama nasib saya hari ini. Semua orang bilang sabar. Tapi manusiawi lah saya belum bisa sabar + ikhlas, ilmu ikhlas saya masi cetek, secetek got!

Saya tinggal nunggu kapan rejeki itu datang. Rejeki hape yang lebih bagus. Padahal saya sengaja ga mau ganti hape karna saya punya niat buat minta barang yang lain. 'barang lain' itu ternyata masih bukan rejeki saya lagi.

Mau minta maaf buat Orang tua saya yang begitu ikhlas dengan kepergian hape. Mungkin mereka sedang mempertimbangkan hape baru untuk saya :D atau kapok dan tak akan pernah membelikan saya hape bagus lagi. oh..

Hmm.. saya masih bisa merasakan dinginnya keypad saat saya sentuh! huh.. saya coba lagi untuk IKHLAS.