Senin, April 28, 2014

Pening

Tanpa diminta mengalah, saya juga sudah mengalah. Sampai lelah, sampai muak. Sampai semuanya terjadi begitu saja, sampai kepala saya ikut-ikutan bego. Ini mengalah atau dijajah? Katanya saya berhak tidak mengurusi hal-hal itu, tapi ke-mengalah-an itu terlanjur jadi tabiat, jadi tuman. Terus saja begitu, sekarang jadi tuntutan. Padahal bukan kewajiban saya lagi toh?

Segalanya jadi serba salah. Menutup mata, salah. Membuka mulut apalagi. Peristiwa ini sungguh maha lucu. Sayangnya, saya tidak sempat tertawa sebelum jadinya tersedu-sedu.

Di saat saya memutuskan untuk tidak berlelah-lelah marah dan peduli lagi, di waktu yang bersamaan saya dipaksa melihat sisi lain supaya saya lebih peka.

'Helo! Apa kabar?'

'Mau nyemplung jurang'

(sigh)

Kapan ini berakhir? Saya sudah tidak peduli. Kapanpun itu saya tidak peduli. Sudah masanya saya harus egois. Meskiun dalam hati menangis. Tangisan paling perih. Andai dia tahu. Bukan. Andai dia mau tau.

Sabtu, April 26, 2014

Jarak

Berapa jarak kau dan aku?
Biar saja ia ribuan hasta
Tapi jarak bukan hanya raga,
Ragaku dan ragamu

Adalah hatiku,
Juga hatimu
Hanya sebatas darah yang mengalir pada nadi.
Lekat.

Biarlah tak sempurna
Karena sempurna adalah kegaiban

-Pasir honje, 11:52

Selasa, April 22, 2014

Masa itu

Pada ayah saya berkata, "Jangan pernah bersedih lagi, Pap..". Tetapi pada suatu hal yang tidak saya ketahui, saya ini terlalu tidak sabar. Sedih adalah proses. Dalam sedih ada doa, dalam sedih ada permohonan yang tulus, dalam sedih ada permintaan ampun. Saya naif.

Pada suatu hal yang tidak saya ketahui pula, saya lupa berterimakasih pada keadaan yang membuat saya semakin mengerti banyak hal. Jauh dari itu, saya yang lemah ini dipaksa tumbuh diantara duri. Saya marah, dan tidak terima. Namun, tetiba saya mulai duri-duri itu yang menyangga badan lemah ini, untuk tumbuh lebih besar lagi, lebih kuat lagi. Saya bersyukur.

Pada suatu ketika, di suatu hari yang sepi dan sedih, saya pernah berdoa agar segala yang memberatkan kepala saya ini harus segera lenyap. Ketika itu saya jg lupa bagaimana itu kepala yang tenang namun tidak kesepian. Saya coba hibur diri saya dengan pelbagai cara. Hal lain bermunculan, saya kepala saya semakin sibuk, seperti dua orang yang ribut akan pergi makan ke mana. Percayalah, mereka memang tak pernah hilang. Hanya saja mereka saban-saban melumpuh dan saban-saban akan menyerang kembali. Entah kapan, waktu yang menjawab.

Kali ini kesadaran saya tengah pada titik tersadar. Di tingkat kesadaran hampir sempurna. Semakin cemas, semakin memohon, semakin lupa bagaimana itu tidak khawatir. Pada masa saya harus semakin sedia kapan mereka menyerang lagi.

Saya enggan pergi (karena terlalu cemas), hanya saja hidup itu adalah perjalanan. Jika tak mau pergi, bagaimana bisa kusebut hidupku ini adalah kehidupan. Pada masa itu saya bimbang. Di masa kini ini, saya benar-benar sedang besiap pergi.

Masa itu adalah cerita ketika itu. Suatu hal yang telah berlalu. Ingatlah bahwa Tuhan saya pernah bersumpah demi waktu. Adalah masa senggang, lapang dan pikiran tenang itu adalah milikku, ketika itu. Tetapi adanya masa itu telah berlalu diganti oleh masa yang kekinian. Dan akan berlalu juga. Begitu seterusnya, hingga waktu telah habis memakan tulang dan kulitmu.

Peristiwa hanya soal kejadian terkait waktu.

Pasir honje, 22:55.