Habis sudah masa kita. Kita tahu, dan saya terlalu muak dengan kata meraka; "Ada pertemuan, pasti ada perpisahan"
Masa kini membawa kenangan, tentang hujan yang membuat kita kuyup, malam yang selalu menyelimuti, angin yang bernyanyi, juga bintang yang menyinari. Masa kini yang menguak memori, melayang-layang seperti awan pasrah dibawa angin, namun lebih sering sempoyongan karena terlalu letih mengingat.
Adalah kamu pabrik kenangan, membungkus masa lalu dengan rapi. Namun juga senyap yang segera ramai jika telah tiba waktunya: Kita bertemu lagi.
Tidakkah setiap detik adalah nasib? Kau percaya itu? Waktu terlalu ribut berbicara, juga terlalu sibuk membongkar kejutan. Kadang kau heran, padahal kau paham itu nasib. KEJUTAN! Hidup ini terlalu rumit juga aneh untuk dijalani.
Ilalang, mengapa kau seperti menari? Padahal tubuhnya hanya tak mampu melawan angin. Bergerak kesana-kemari, membuat mata lelah -bagi yang memang sudah lelah- tapi, sangat banyak yang menikmati. Ilalang tumbuh di pekarangan rumah kosong. Kenapa di sana? Itu nasibnya. Banyak yang terheran-heran mengapa ilalang yang lain bisa mati, padahal ketika musim penghujan. Mereka mati karena mereka sudah waktunya mati. Banyak yang tak tahu saja, padahal ilalang itu mati tersiram bensin. Nasib.
Kenapa ilalang? Entahlah.
Hari ini bertemu, besok berpisah. Ada yang bisa kau lakukan selain mengenang? Diam-diam saya bertanya, mengapa kita bertemu dalam waktu yang terlalu singkat? Mengapa harus saya dengan kamu? Padahal rencana kita di hari sebelumnya tak pernah demikian. Kita tak pernah berrencana menjejakkan kaki di tempat kita bertemu. Lalu nasib begitu saja berjumpa.
Masih saja kita terheran. Padahal kita terlalu paham juga muak karena ini adalah nasib. Sampai jumpa, jika berjumpa lagi.