Kita tidak pernah tau kapan mati itu menjemput. Apalah daya manusia kalau malaikat maut sudah siap mencabut nyawa, mungkin dia berdiri di kanan, di kiri, di kepala atau di ujung jari-jari kaki. Semua itu misteri. Orang mati tak pernah menceritakannya pada orang yang masih hidup.
Lagi-lagi kuberi tahu, mati itu misteri. Tak pernah ada yang tahu kapan ‘dia’ menjemput. Orang sakit lalu mati, orang terpeleset lalu mati, orang tertimbun longsor lalu mati, orang terseret banjir lalu mati, orang sedang mengendarai mobil lalu mati, orang sedang bergurau lalu mati, orang membaca lalu mati.
Nabi pernah bercerita, mati itu menyakitkan. Kesakitan saat mati yang teringat itu seperti badan yang disayat-sayat oleh pedang atau sakitnya seperti jarum-jarum yang menusuk kulit dan ketika jarum-jarum itu di tarik kembali, kulitnya ikut terbawa.
Entah cerita dari mana - yang menceritakan tak menyebutkan sumbernya- 40 hari sebelum mati, manusia akan ditinggal penjaganya. Hidup sendiri tanpa penjaga. Mungkin dibiarkan untuk menikmati hidupnya. Entah cerita dari mana lagi, ketika akan mati, dari tubuh manusia akan mengeluarkan senyawa yang ‘disukai’ kucing.
Nabi pernah bercerita lagi, saat manusia baru saja mati, sebenarnya arwahnya sedang ikut menangis bersama keluarganya. Ia juga ikut bergabung dalam rombongan pengantar jenazahnya, sampai akhirnya ia ditinggal mereka-yang mengantar jenazahnya- sejak tujuh langkah dari liang lahat.
Manusia tak pernah lepas dari masalah, bahkan saat matipun manusia dalam masalah. Beberapa hari lalu saya teringat cerita Nabi lagi. Beliau pernah mendengar suara tangisan manusia dari dalam kubur, Nabi diberi tahu Jibril bahwa manusia itu sedang dalam siksa kubur karena suka kencing sembarangan.
Katanya, kita tak perlu takut mati. Cemas atau tidak cemas dengan mati, manusia akan mati. Ternyata hidup itu memang abadi, tapi yang abadi itu, hidup setelah MATI





