Kalau pulang kuliah, rumah ancur kaya kena puting beliung, ini pasti kerjaan Ahmad! Gelas dimana-mana, krayon, handuk, panji, bantal, buku, segala macem kabel, pokoknya semuanya bisa keluar dari sarang!
Namanya Ahmad Rabbani Subowo. Dia lahir seperti hadiah ulang tahun. surprise! Mukanya lucu, hidungnya kecil kaya anak jambu, kepalanya kaya lilin yang dibentuk bulet hampir sempurna. Lucu ya, kaya SNOWMAN! XDD
Suatu hari di swalayan, ibu bilang "mba, tolong pegangin ade nya ya..", sontak dia menjulurkan tangannya pada saya, tapi saya iseng nyomot hidungnya. "ih.. mba! pegang donk tangannya, nanti Ahmad ilang". Haha.. kepedean amat dia bakal ilang, saya lebih kawatir idungnya yang ilang, kecil sih, takut ga keliatan! :))
Umurnya hampir lima tahun, tapi kalo ngobrol mirip emak-emak. bawel! Kalo bisa semua deh diceritain, dari A sampe Z, dari sabang sampe merauke :D
Suatu hari dia lagi berkunjung ke rumah tetangga, anak pemilik rumah itu kira-kira seumur saya. Waktu itu si Ahmad sama teteh itu lagi asik main tebak-tebakan. Kesal rupanya, dari tadi tebakan si teteh ga ada yang bisa kejawab, dan terlontarlah pertanyaan pamungkas "sok coba teh Oki, siapa nama nenek Ahmad?".
Teh Oki : @#$%^&*&^%$#@! haha.. dasar Ahmad!!
Kalo bisa liat ekspresi mukanya waktu itu rasanya pengen nonjok! haha..
Kadang-kadang Ahmad melakukan hal yang mengaharukan, semua orang tersentuh dibuatnya *ohh*
Suatu hari, Ahmad berkutat dengan pensil dan kertas-kertasnya. Entah apa yang digambar, mungkin monster atau superhero. Tiba-tiba, ia menggambar satu gambar hati besar dan ada namanya disana "A.H.M.A.D". Dia masih agak kesulitan menulis suku kata, dan meminta tolong Lita untuk mendiktekannya menulis IBU. Satelah ada tulisan Ibu disitu, dia menyampaikan kalau gambar itu adalah surat cinta untuk ibu. Oh.. saya sangat terharu!!
Ahmad itu hiburan, dan saya banyak belajar dari dia.. Dia anak laki-laki tapi berhati lembut :)
Kamis, Agustus 26, 2010
MAD
Hari ini, saya berkali-kali harus berdamai dengan marah. Ingin sekali rasanya mematahkan banyak batang leher orang. Tapi apa daya tanganku "buntung", marah ini saya simpan sampai geraham saja, biar dia bermeletuk hebat, mungkin dia yang akan segera patah.
Kata Rasul, orang yang bisa menahan marah adalah orang yang kuat. Tapi saya bukan orang kuat. Saya hanya terlalu bodoh untuk melampiaskannya. Saya tak tau bagaimana marah, saya kembali diam dan berdamai dengan marah.
Kalau kata ibu, apa guna marah? marah tidak menyelesaikan apa-apa. Terkadang saya setuju, tapi saya sering tak setuju. Marah, itu melampiaskan kesal, tapi menurut ibuku, marah itu lebih baik diam.
Kenapa saya marah? kenapa orang marah? Kata ayah saya, jangan pernah hiraukan semua hal di luar jangkauan. Mungkin ada banyak hal diluar jangkauan yang tidak bisa saya atau orang lain lakukan, makanya saya dan mereka marah. Saya mengerti, tapi saya tak mau peduli hal itu!
Mereka selalu marah, kenapa saya tidak boleh? Haruskah saya menjadi pihak yang selalu sabar? Mungkin hanya saya yang tidak boleh mengeluh ini dan itu, dan mereka boleh! Lalu saya yang harus diam. Lalu saya yang harus selalu sabar. Saya selalu sanggup diam, tapi saya tak pernah sanggup menahan. Apa harus saya menjadi seorang pendendam? Saya minta maaf..
Kata Rasul, orang yang bisa menahan marah adalah orang yang kuat. Tapi saya bukan orang kuat. Saya hanya terlalu bodoh untuk melampiaskannya. Saya tak tau bagaimana marah, saya kembali diam dan berdamai dengan marah.
Kalau kata ibu, apa guna marah? marah tidak menyelesaikan apa-apa. Terkadang saya setuju, tapi saya sering tak setuju. Marah, itu melampiaskan kesal, tapi menurut ibuku, marah itu lebih baik diam.
Kenapa saya marah? kenapa orang marah? Kata ayah saya, jangan pernah hiraukan semua hal di luar jangkauan. Mungkin ada banyak hal diluar jangkauan yang tidak bisa saya atau orang lain lakukan, makanya saya dan mereka marah. Saya mengerti, tapi saya tak mau peduli hal itu!
Mereka selalu marah, kenapa saya tidak boleh? Haruskah saya menjadi pihak yang selalu sabar? Mungkin hanya saya yang tidak boleh mengeluh ini dan itu, dan mereka boleh! Lalu saya yang harus diam. Lalu saya yang harus selalu sabar. Saya selalu sanggup diam, tapi saya tak pernah sanggup menahan. Apa harus saya menjadi seorang pendendam? Saya minta maaf..
Labels:
celengan babi,
curhat maning
Langganan:
Postingan (Atom)