Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan kajian ini. Saya berpikir kaku bahwa wanita sudah pasti berbeda dengan pria, saya berpikir apalagi yang perlu dibahas. Semua orang sudah dapat melihat hanya dari fisiologis tubuh 2 sosok ini, mereka sama sekali berbeda. Mungkin kita biasa melihat dari beberapa aspek, misalnya dari segi emosional pun mereka sudah berbeda. Perbedaan ini terlihat dari peran mereka, wanita sebagai ibu dan pria sebagai ayah.
Sampai akhirnya saya benar-benar tercengang melihat hasil survei bagaimana wanita dan pria itu dibedakan. Inti survei itu mengatakan, bahwa tak ada yang berbeda dengan konstruksi otak wanita dan pria, hanya saja kerja otak mereka yang berbeda. Wanita menunjukkan aktivitas otaknya saat membaca emosi, dan pria tidak. Kemudian pria hanya menggunakan otak bagian kanannya saja untuk mendengar, tetapi wanita menggunakan kedua bagian otaknya. Beberapa fakta pula diungkapkan pada survei ini, bahwa wanita akan lebih tertarik dengan fakta emosional sedangkan pria menyukai fakta benda. Ada pula riset tentang hormon testosteron. Hormon ini memiliki peran penting dalam daya saing sebagai respon terhadap kompetisi. Terlihat dalam survei ini bahwa pria cenderung mengalami fluktuasi tinggi yang konsisten terhadap kompetisi dan wanita tidak.
Saya menyukai fakta-fakta ini. Wanita terbukti memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki pria. Wanita selalu unggul untuk empati, penyayang, fokus pada beberapa keadaan dan membaca emosi. Saat wanita bisa berempati dan lebih penyayang dari pada pria, itu artinya wanita memang cocok dengan peran ibu yang penyayang dan pelindung bagi anak-anak. Namun keunggulan pria ketika mereka lebih kompetitif dibanding wanita itu artinya pria memang cocok dengan peran ayah sebagai pencari nafkah. Secara keseluruhan, saya menilai singkat bahwa wanita dan pria diciptakan untuk saling melengkapi.
Melihat beberapa hasil riset bahwa wanita lebih menyukai fakta emosional, saya mulai menyadari mengapa sejumlah program studi humaniora akan didominsai oleh mahasiswa wanita. Sebaliknya, program studi teknik akan didominasi oleh kaum pria, karena mereka cenderung lebih menyukai benda.
Fakta lain mengenai jumlah pasangan seks wanita dan pria. Pria akan mengatakan bahwa mereka memiliki pasangan seks yang cukup banyak dari jumlah pasangan seks yang diakui wanita. Namun dalam riset tersebut, survei mengatakan bahwa jumlah pasangan seks wanita tak lebih sedikit dibanding pria. Wanita hanya tak mau mengakuinya karena ada anggapan bahwa mereka tak akan diminati lagi oleh pria jika mereka telah banyak berganti pasangan. Saya mulai beranggapan lagi bahwa wanita tak lebih setia dibanding pria. Bagaimanapun wanita dianggap lemah dan mereka akan mempertahankan sebuah hubungan, tapi wanita juga memiliki obsesi tersendiri dengan seks.
Jelas sudah bagaimana wanita dan pria dibedakan. Tak hanya mereka berbeda dalam fisik, namun dalam cara kerja otak juga kerja hormon mereka berbeda. Saya rasa perbedaan-perbedaan itulah yang mendasari perbedaan peran-peran mereka pula. Namun, dari segala perbedaan yang ada, saya pun tak menutup diri untuk mengakui bahwa sebagian wanita dan pria menjalankan peran yang berbeda dari tuntutan sosial mereka, sehingga mereka ‘terlihat’ sama.