Waktu adalah persoalan kesepakatan. Semua orang sepakat jika satu hari adalah 24 jam. Dan aku tidak juga paham mengapa mereka membaginya menjadi 24 jam, yang sama artinya dengan 24X60 menit. Mengapa dari singkatnya hari itu, mereka membaginya menjadi 24 jam? Tidak 12? Atau 6 jam saja? Meski begitu, tidak akan ada yang berubah. Hari tetap saja akan pagi dan malam. Bahkan sore dan pagi hanya semacam ilusi, karena mereka terlalu indah untuk cepat berlalu.
Aku terlalu muda untuk berbicara waktu. Karena ada yang lebih pantas membicarakannya. Bahkan mereka (mungkin saja) terlalu lama menanti secuil cahaya dari yang dulu selalu memberinya. (Mungkin saja) mereka terlalu sesak menanti pada ruang yang sempit. Mereka membicarakannya. Waktu tertawa.
Waktu berlalu, kemudian ragaku menua. Rambutku menipis, mataku merabun, dan mulai banyak lupa.
Dan waktu bisa membuatmu lupa. Perihal apa yang mutlak terjadi pada dirinya.
Lupa bahwa waktu tidak akan pernah kembali. Tanpa menyadarinya semua hal telah berubah karena waktu. Kemudian adalah itu mereka sebut menyesal.
Lupa jika orang yang dulu ada di sekitarnya, bersama dengannya, tidak lagi sama. Frekuensi di antara mereka mendadak berbeda, disambut oleh frekuensi dari orang yang berbeda. Diretas waktu. Pada orang yang dulu sering bersama, dan ada di sekitarnya, semuanya jadi tidak relevan lagi.
Orang lupa bahwa setelah bersama ada yang kami sebut dengan ketidakbersamaan, yang disebabkan oleh perpisahan. Lagi-lagi orang lupa bahwa ketidakbersamaan adalah situasi ketika waktu mulai membuat jurang yang lebih jauh lagi atara mereka.
Orang tidak ingat bahwa masing-masing dari kita perlahan menjadi orang 'menyebalkan' bagi 'orang masa lalu'. Atas waktu yang kita buang. Topik yang kita perbincangkan. Makanan yang kita habiskan bersama. Jarak yang kita lalui dengan senda gurau, dan sebagainya.Pada hari ini, kesan itu akan menjadi tidak sama lagi.
Orang lupa. Aku lupa.
Aku terlalu muda untuk berbicara waktu. Karena ada yang lebih pantas membicarakannya. Bahkan mereka (mungkin saja) terlalu lama menanti secuil cahaya dari yang dulu selalu memberinya. (Mungkin saja) mereka terlalu sesak menanti pada ruang yang sempit. Mereka membicarakannya. Waktu tertawa.
Waktu berlalu, kemudian ragaku menua. Rambutku menipis, mataku merabun, dan mulai banyak lupa.
Dan waktu bisa membuatmu lupa. Perihal apa yang mutlak terjadi pada dirinya.
Lupa bahwa waktu tidak akan pernah kembali. Tanpa menyadarinya semua hal telah berubah karena waktu. Kemudian adalah itu mereka sebut menyesal.
Lupa jika orang yang dulu ada di sekitarnya, bersama dengannya, tidak lagi sama. Frekuensi di antara mereka mendadak berbeda, disambut oleh frekuensi dari orang yang berbeda. Diretas waktu. Pada orang yang dulu sering bersama, dan ada di sekitarnya, semuanya jadi tidak relevan lagi.
Orang lupa bahwa setelah bersama ada yang kami sebut dengan ketidakbersamaan, yang disebabkan oleh perpisahan. Lagi-lagi orang lupa bahwa ketidakbersamaan adalah situasi ketika waktu mulai membuat jurang yang lebih jauh lagi atara mereka.
Orang tidak ingat bahwa masing-masing dari kita perlahan menjadi orang 'menyebalkan' bagi 'orang masa lalu'. Atas waktu yang kita buang. Topik yang kita perbincangkan. Makanan yang kita habiskan bersama. Jarak yang kita lalui dengan senda gurau, dan sebagainya.Pada hari ini, kesan itu akan menjadi tidak sama lagi.
Orang lupa. Aku lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar