Tanpa diminta mengalah, saya juga sudah mengalah. Sampai lelah, sampai muak. Sampai semuanya terjadi begitu saja, sampai kepala saya ikut-ikutan bego. Ini mengalah atau dijajah? Katanya saya berhak tidak mengurusi hal-hal itu, tapi ke-mengalah-an itu terlanjur jadi tabiat, jadi tuman. Terus saja begitu, sekarang jadi tuntutan. Padahal bukan kewajiban saya lagi toh?
Segalanya jadi serba salah. Menutup mata, salah. Membuka mulut apalagi. Peristiwa ini sungguh maha lucu. Sayangnya, saya tidak sempat tertawa sebelum jadinya tersedu-sedu.
Di saat saya memutuskan untuk tidak berlelah-lelah marah dan peduli lagi, di waktu yang bersamaan saya dipaksa melihat sisi lain supaya saya lebih peka.
'Helo! Apa kabar?'
'Mau nyemplung jurang'
(sigh)
Kapan ini berakhir? Saya sudah tidak peduli. Kapanpun itu saya tidak peduli. Sudah masanya saya harus egois. Meskiun dalam hati menangis. Tangisan paling perih. Andai dia tahu. Bukan. Andai dia mau tau.
Segalanya jadi serba salah. Menutup mata, salah. Membuka mulut apalagi. Peristiwa ini sungguh maha lucu. Sayangnya, saya tidak sempat tertawa sebelum jadinya tersedu-sedu.
Di saat saya memutuskan untuk tidak berlelah-lelah marah dan peduli lagi, di waktu yang bersamaan saya dipaksa melihat sisi lain supaya saya lebih peka.
'Helo! Apa kabar?'
'Mau nyemplung jurang'
(sigh)
Kapan ini berakhir? Saya sudah tidak peduli. Kapanpun itu saya tidak peduli. Sudah masanya saya harus egois. Meskiun dalam hati menangis. Tangisan paling perih. Andai dia tahu. Bukan. Andai dia mau tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar