Sabtu, Januari 26, 2013

Malam Random

Holaa.. Lagi hobi bengong nih. Masalah hidup saya kayanya kebanyakan deh. Pengen ngeluh tapi ya masalah-masalah itu juga ga bakal pergi kalau cuma ngeluh apalagi bengong. Cukup sadar, tapi lagi merasa tidak punya kekuatan yang cukup buat ngelepasin diri dari masalah-masalah ini. Mungkin lagi inkubasi dan re-charging. Semoga prosesnya ga lama. Amin..

Lagi gampang kecewa banget nih. Hati ini lagi gampang cracking. Dari dulu sih juga begitu. Ibarat dulu, hati ini kayak telor asin, yang sekali ketok langsung 'krek', sekarang hati ini kayak kerupuk. Ga bisa kena air, ga bisa kena udara. Sensitif. Apa sih ini? XD

Aahh.. Saya aja lagi bingung sama diri saya. Terlalu rumit buat mengurai apa sebetulnya masalah saya. Saya juga terlalu malas mengurainya. Kebayakan kecewa sama keadaan. Ditambah lagi banyak orang yang kayaknya dengan sengaja bikin hati saya rusak. Apa maksudnya? Haha.. saya lagi ga mau disalahin makanya bikin pernyataan itu. Nyebelin kan?

Ehh.. Kenapa random begini? Apa karena ragu saya sama yang udah saya lakuin? Kayaknya sih begitu. Saya bolak-balik nyesel punya harapan yang itu-itu lagi. Padahal siapa juga yang ngasih harapan. Haha.. Yang ini apa lagi coba?

Hmm.. Andai saya punya semuanya, saya mau membaginya untuk meringankan beban kami ini. Iya kami. Dalam masalah yang lain, saya sedang berbagi hal yang rumit. Andai saja ini tak pernah terjadi, mungkin lapang sekali hati saya malam ini. Saya coba bertanya pada Tuhan, kenapa Dia memberikan kami ini? Haha.. Naif sekali saya mencoba menandingi-Nya. Mungkin Tuhan menjawab "WHY NOT?"

Aakk.. Maunya tidak memposting ini. Tapi agar lebih lega malam ini. Agar bisa tidur agak nyenyak malam ini. Besok minggu. Hari pertama dalam satu minggu. Mau saya memulainya dengan hati lebih luas. Seluas bumi.

Selamat malam kamu. Bumi..

Kamis, Januari 24, 2013

Be Happy

Saya pribadi sering bingung, ada banyak orang yang motivasi hidupnya adalah membahagiakan orang tua, lalu bagaimana dengan kebahagian dirinya? Atau ambillah contoh yang lebih umum, misalnya membahgiakan orang yang dicintainya, entah itu siapa. Ada yang sibuk menjadi ini dan itu untuk membahagiakan orang-orang yang dicintainya itu, tapi apakah mereka sendiri benar-benar bahagia dengan menjadi ini dan itu?

Saya bukan pembenci orang tua sehingga bisa-bisanya saya ngomong seperti ini. Saya justru sangat mencintai orang tua saya dengan hati saya. Tapi saya juga mencintai diri saya. Huh? Narsis? Bukan. Ini keharusan yang artinya semua orang harus memelihara dirinya dan membuat dirinya bahagia.

Sah saja sih kalau motivasi hidup seseorang untuk membahagiakan orang yang mereka cintai, karena itu artinya hidup mereka akan tetap terus bergerak, berjalan dan dinamis karena kebahagiaan orang yang dicintainya itulah penggerak. Kehidupan setiap orang akan semakin kompleks karena semakin banyak orang yang akan mereka cintai. Misalnya, pada usia seperti saya ini, orang yang saya cintai adalah orang tua, keluarga dan pacar. Nanti di kehidupan selanjutnya saya akan mencintai anak-anak saya, cucu saya, keluarga suami dsb. Jadi motivasi saya untuk hidup akan lebih besar, karena akan lebih banyak orang yang ingin saya bahagiakan. Begitu bukan sih? Anggap saja itu benar.

Lalu kapan kita hidup untuk membahagiakan diri sendiri? Masuk akal memang jika ketika kita mampu membuat orang yang kita cintai bahagia lantas kita berbahagia. Tapi bukankah lebih masuk akal lagi jika bahagiakan diri kita lalu orang yang kita cintai akan ikut bahagia? Jadi yang harus kita kejar adalah bahagiakan diri kita. Bukan begitu?

Ehhh.. Jangan menganggap ini egois, sayang.. Ada kalanya kebahagiaan orang itu terletak pada kebahagiaan orang lain. Jadi ya betul kalau motivasi hidup mereka untuk membahagiakan orang lain, namun pada dasarnya mereka sedang membuat dirinya bahagia. Mereka mengejar kebahagiaan dirinya. Dan inilah hal yang menurut saya benar.

Ketika saya menjadi diri saya, ketika saya melakukan apa yang saya suka sesuai dengan akal sehat saya, bukan melakukan hal buruk yang saya mau, itu adalah hal yang membuat saya bahagia. Saat saya senang melakukan ini dan itu yang sebetulnya orang tua saya tidak suka pun akan tetap saya lakukan. Saya hanya tinggal membuktikan apa yang saya lakukan adalah benar. Hanya itu? Iya hanya itu. Saya percaya letak kebahagiaan orang-orang yang mencintai saya adalah ketika saya bahagia. Saya dan semua orang perlu 'bernyawa' dalam menjalani kehidupan ini. Ketika terlalu fokus untuk membahgiakan orang yang kita cintai kadang kita kita tidak peduli pada 'kebernyawaan' hidup yang sedang kita jalani. Ya, saya pikir itulah yang sering terjadi.

Nanti, suatu ketika saya kehilangan orang yang saya cintai, saya tidak terlalu patah, karena tujuan saya hidup adalah saya sendiri. Hidup saya untuk eksis di dunia di hadapan Tuhan. Kebahagiaan orang yang saya cintai pasti akan mengikuti. Ga ada yang salah mau seperti apa tujuan hidup ini. Apapun motivasi hidup kita, maka hidup kita tidak akan pernah berhenti. Meskipun seece-ece apapun itu motivasi itu.

Percayalah tulisan ini ditulis oleh orang ngelindur tak bepengetahuan dan tanpa referensi. Hanya ingin bilang "Be happy" untuk semua orang. Harap maklum.

Minggu, Januari 20, 2013

Sederhana Cinta

Saat penulis menyederhanakan frase agar tulisannya menjadi lebih indah, saya juga ingin mulai menyederhanakan sesuatu. Menyederhanakan cinta saya. Saya pikir cinta saya ini terlalu rumit untuk dimengerti. Bahkan mungkin tidak ada yang mau mengerti karena terlalu berbelit.

Menyederhanakan cinta dengan menerima cinta apa yang ada. Menerimanya dengan utuh tanpa pengecualian bahkan tanpa syarat. Dalam perjalanan menyederhanakan cinta ini, saya bukan bebas keluhan. Terkadang saya masih berharap ini-itu atau sesuatu yang besar bisa terjadi. Bukan ingin letupan penuh getaran tapi berharap cinta ini layak seperti yang orang lain lihat.

Biarkanlah kami tidak sama. Dan mengapa juga kita harus sama. Kita hanya perlu sesederhana itu dalam mencintai. Aku, kamu, dia dan kita semua menerima satu sama lain. Bukan hanya kekurangan tapi juga kelebihannya. Ya, saya terpaksa menukar kekurangan sebelum kelebihan. Coba renungkan, terkadang kita dibutakan kelebihan yang sebetulnya hanya melenakan mata tapi tidak memberi arti dan sebaliknya.

Menyederhanakan cinta bukan dalam rangka mengerdilkan cinta atau melebih-lebihkan sesuatu yang harusnya tidak ada. Cinta terlalu mewah untuk dirayakan dalam gepita. Menyederhanakan cinta dalam rangka memanusiakan manusia, bukan mendewakan.

Biarkan cinta itu sederhana namun utuh juga abadi.

Untuk ibu, ayah, lita, afif, ahmad dan dia yang namanya ada di lauhilmahfuz :)

Sabtu, Januari 12, 2013

Sepi dan Rumpi

Dua minggu ke belakang kayanya suntuk sekali. Sampai saat ini juga masih suntuk. MUNGKIN karena tugas suci. Mungkin karena tugas itu jadi tidak suci lagi karena kebanyakan terjamah. Dapet wewejangan dari banyak orang, dari orang tua, temen sampai dari si subjek penelitian saya untuk selalu semangat. Baiklah.. Memang selalu semangat tapi jadi angon-angonan karena ada faktor-faktor yang bikin badmood. Tugas-tugas sih pasti akan selalu dikerjain, karena mengingat itu suatu kewajiban. Ya.. asal fokus, alon-alon asal kelakon. Bokap jadi sering melihat saya dengan pandangan sedih, mungkin saya kelihatan capek dan lingkar hitam mata sudah kekal abadi jadi polesan muka saya. Tambah kiyut atau..

Well, di sela keseringan saya bengong dan banyak pikiran, kadang ada yang datang tanpa saya undang. Hal ini sering terjadi, tapi ga pernah saya tanggapi. Sudah beberapa hari ini, setiap ke kamar mandi selalu ada yang ikut. Dia main-main di lampu jadi seperti ada laron yang muter-muter di lampu. Saya bilang, kalau lampun redup-terang terus seperti itu saya pusing seperti sedang vertigo. Lalu dia pergi, mungkin tidak pergi tapi berhenti bermain dengan lampu. Atau jadi ada yang sering nongol di jendela waktu saya begadang untuk nugas. Matanya ga ngeliatin saya, tapi saya biarkan dia disitu samapi dia pergi. Dan malah jadi ada yang suka ikut nugas di komputer ruang tengah atas. Suara ketikannya jauh lebih mahir dari ketikan yang saya lakukan. Baiklah.. semua baik tapi tak ada satupun yang saya kenal. Mungkin keberadaan mereka untuk nemenin saya. Niat mereka baik.

Kembali ke rutinitas. Kewajiban yang sedang saya lakoni saat ini bikin ga eksis di dunia nyata. Ga heran gitu ya sekarang itu jadi agak putihan, karna emang jarang banget-nget-nget keluar rumah. Tidak terkurung pada ruangan saja sih, tapi juga terkungkung pada suatu ruang pikiran yang membuat pikiran ga maju-maju. Mandek, tjoy! Kadang sering merasa jadi orang kesepian. Hampir semua orang tau saya ratu ngomong. Ngomooong melulu. Giliran kesepian kaya gini, rasanya rahang pegel pengen dipijet. Gatel aja pengen diskusi ini itu XP

Akhirnya coba eksis aja di dunia maya. Mulai ngomong-ngomong masalah sepele sampai serius. Biar rileks gitu ga melulu mikir kewajiban. Tapi apalah daya, ngobrol di dunia maya itu sama sekali ga nampol. Limited! Ternyata lebih capek ngetik dibanding ngoceh. Betul tidak? X)) Baru sadar, ternyata kebutuhan ngobrol adalah kebutuhan penting buat makhluk sosial seperti kita ini. Rasanya kalau ga ngobrol itu hampa. Ya meskipun ngobrol sama emak ga pernah absen tapi butuh gitu lho ngerumpi sama temen. Tukar info ini itu termasuk info gosip terhangat. Bleh! Oh.. temen-temen rumpi saya itu sejenis malaikat lah X)

Mungkin juga teman saya yang lain pada punya telepati yang bagus gitu ya ke saya. Belakangan ini jadi sering ada yang nanya kabar meski lewat sms lalu di lanjut menelpon. Ya lumayan temen ngobrol meskipun ga ketemu langsung. Tapi abis nelpon pasti langsung nagih ketemu biar lebih puas gitu ngobrolnya. Eaa..

Salam rumpi!

Pada suatu keyakinan

Mengapa kau pernah yakin pada suatu hal yang sebetulnya tidak pernah kau tau apa hal itu sebenarnya? Seperti ketika kau meyakini cinta yang kau genggam adalah benar milikmu selamanya? Karena rasa? Atau lebih rumit dari itu, sampai kau tak bisa menerjemahkannya?

Padamu, ingin kusampaikan kisah ini.

Jika dalam drama, saya ada dalam dua peran. Antagonis dan protagonis. Pada suatu ketika saya melawan segala gerak maju untuk mengangkasakan ego dan kadang saya hanyut dalam aliran sungai cerita hingga tenggelam dan bermuaravpada tempat yang tidak saya kenal. Bukankan itulah anti dan pro? Semua berlawanan.

Semua tampak membingungkan saya. Tampak sah saja saya lakukan untuk merebut sesuatu yang saya yakini. Bahkan saya sendiri tidak tau kebenaran yang saya yakini. Sampai pada hari yakin itu saya genggam, dengan berharap semua itu indah, karena yang saya lihat adalah indah.

Pernahkan saya peduli pada apa yang saya genggam hingga saya pernah ragu? Tidak pernah. Namun pada suatu ketika, saya peduli pada yang saya injak. Saya mulai ragu. Pada sebuah dasar lunak yang selalu berhasil menopang saya. Apakah itu akan selamanya dapat menopang? Bahkan pada kerasnya mamer saya bisa terjatuh. Luka, atau paling tidak memar.

Di awal keraguan pada apa yang saya genggam, dengan egoisnya akan saya genggam yakin itu. Tak peduli semua yang mencemooh saya. Saya berdoa dalam hujan, dalam fajar, senja dan dalam pekat malam, agar benar apa kira saya pada yakin itu. Bodoh? Mungkin!

Saya tak takut salah. Saya tak takut terluka. Saya tak takut apapun. Saya menikmati yakin ini. Meski hanya dua malam, dua jam atau dua detik sekalipun. Dalam doa di waktu-waktu yang lain, saya meminta agar ini bisa bertahan agak lama meskipun ternyata apa yang saya yakini adalah salah.

Yakin ini terlalu indah untuk saya yakini.

-
-
-
-