Kini saatnya aku yang menyatakan seluruh hal yang ingin aku sampaikan, pada orang yang ingin sekali aku tujukan surat ini.
Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.
Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.
Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.
Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.
Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.
*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.
Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.
Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.
Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.
Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.
Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.
*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.
1 komentar:
Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan.
okehh anggap aj kenangan yg udah usang, terus masupin museum
Posting Komentar