Padahal sudah hampir setahun saya meninggalkan pekerjaan ini, setelah setahun bergelut dengan mereka. Tapi kenapa saya baru nge-share tentang mereka ini di blog? Rasanya basi mungkin, tapi rasa kangen saya pada anak-anak ini sulit saya bendung. Saya terlalu rindu dengan mereka. Pada mereka yang diberi kelebihan oleh Tuhan, untuk mengantarkan kami ke syurga.
Saya ga sengaja menjadi seorang guru dan terapis bagi anak-anak berkebutuhan khusus di salah satu yayasan anak berkebutuhan khusus di kota Bandung. Ceritanya, saya ga sengaja nyemplung di dunia ini, karena awalnya memang ga niat-niat amat. Karena pengen uang jajan tambahan dan punya kegiatan supaya agak keren sedikit kaya temen-temen yang lain, akhinya dengan nekat sayapun nyemplung di dunia yang benar-benar baru untuk saya.
Saya benar-benar ga pernah bertemu langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Apapun itu bentuk kebutuhannya. Karena anak berkebutuhan khusus itu kan banyak macamnya. Ada anak dengan tuna netra, tuna, rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna grahita, anak berbakat dan sebagainya. Kebetulan di sekolah ini saya bertemu dengan beragam anak dengan kebutuhan khusus tuna grahita, kesulitan belajar dan anak-anak dengan autisma.
Awal bertemu mereka, saya benar-benar sedih melihat mereka. Saya bertanya, kenapa Tuhan memberi mereka hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan? Saya terus bertanya, saya merasa kasihan tapi itulah nyawa saya berada di tempat ini.
Semakin hari, semakin mengenal mereka. Membatu mereka belajar untuk mandiri, mengerjakan keperluan mereka dengan tangan mereka sendiri, membantu mereka berbicara dengan baik, tidak saja berbicara pada orang lain tapi juga berbicara pada Tuhan mereka, membantu mereka disiplin dan mengerjakan sesuatu sesuai dengan porsi dan kebutuhan, membantu mereka agar lebih tenang mengadapi semua, membantu mereka duduk tanpa gelisah, membantu mengenal diri mereka juga keluarga, sampai membatu mereka menghafal nama kami meskipun itu buka pekerjaan mudah bagi mereka :D
Akhirnya saya banyak belajar dari mereka juga dari orang tua mereka. Bagaimana memaknai hidup dengan baik. Mereka tidak perlu dikasihani, dan kita tak perlu sedih melihat mereka. Mereka itu selalu senang dan selalu bermain dengan riang, justru tanpa batas, tanpa halangan, dan jujur. Terkadang, justru orang pada umunya tidak dapat bergerak bebas tanpa halangan dan sering kali tidak jujur meskipun pada diri sendiri. Inilah hebatnya mereka. Justru kita-lah yang seharusnya patut dikasihani.
Pada orang tua mereka saya juga belajar untuk selalu menerima. Menerima pada semua garis Tuhan yang sengaja Tuhan gariskan pada telapak tangan kita untuk kita genggam dan kita jalani. Kita lebih sering mengeluh pada keadaan sepele, yang sebenarnya dapat kita jalani dengan mudah hanya dengan ikhlas dan sabar. Memang sabar, ikhlas dan tetek bengeknya itu tidak pernah akan mudah, tapi bandingkan dengan keluhan panjang tidak ada akhir, pasti itu akan lebih melelahkan dan tanpa hasil.
Ya, itulah.. Saya benar-benar sedang rindu mereka. Rindu belajar bersama, mendiami mereka yang sedang menagis, mengajak mereka berdoa setiap pagi, olah raga setiap jumat, cooking class, membuat kesenian, "berperang" dengan apa yang disebut tantrum dan lainnya.
Ada yang bertanya, kenapa saya tidak memulai lagi berkecimpung di dunia ini? Sebetulnya, dunia ini cukup indah, tapi saya mau mencoba dunia yang lain. Saya begitu mencintai anak-anak, justru saat saya masih anak-anak, saya ingin melanglang ke dunia anak yang lain. Semoga semua terjelajahi ya..
Dan hanya inilah yang ingin saya sampaikan pada mereka..
"Hai, anak-anakku.. kalian sudah bisa apa? Ibu ingin melihat kalian bermain, belajar dan makan :D"
Bareng teteh Nasywa saat istirahat
Nasywa, Anggun, Ibu Ita dan Ibu Nten :)
Ira sudah dijemput Mama kan, Nak? :)
Setelah olah raga
Terakhir, tolong jangan gunakan kata-kata seperti autis, idiot, dan sebagianya untuk daily joke. Kata-kata itu benar-benar tidak untuk mengejek atau menghina seseorang. Kata-kata tersebut benar-benar tidak peka sosial, tidak merendahhati, dan sama sekali tidak lucu. Bagaimana jika kita adalah salah satu dari mereka? Atau salah satu orang tua mereka. Coba rasakan sekali lagi.
credit blog istribawel.com
Siapa yang mau memulai untuk tidak menggunakan kata-kata itu dengan saya dan dengan teman-teman lain yang sudah memulai?