Minggu, Oktober 07, 2012

Maaf

Dalam perjalanan pulang tadi siang bersama seorang teman, saya yang masih dalam keadaan marah karena suatu hal. Kami lagi benar-benar marah karena hal yang sama, hanya saja beda tersangka. Teman saya yang malang itu hanya menggerutu dengan perasaan resah. Saya bisa merasakan itu. Lalu teman saya itu bilang, dia ga bisa ngungkapin marahnya pada orang yang bersalah, parahnya, dia bisa saja langsung luluh kalau orang yang tersebut itu minta maaf.  What the hell! Mungkin hatinya terbuat dari salju, begitu?

Sialnya, sayapun demikian. Marah saya sudah sampai merusak otak sampai usus tapi tak juga bisa diungkapkan. Cuma bisa bergemuruh di hati, bikin resah dan bikin salah tingkah. Terlalu takut atau terlalu bodoh? Saya tak tau. Tapi untuk masalah maaf, kami berbeda.

Entah kenapa, saya benci kata maaf. Kata maaf justru membebani saya secara mental. Kata maaf itu hanya mengaburkan masalah tanpa menyelesaikan masalah. Semua akan baik-baik saja kalau masalah itu bisa selesai lalu ada permintaan maaf, tapi  hampir setiap kejadian dikaburkan dengan kata maaf. Ini benar-benar ga adil untuk para korban. Coba bayangkan orang membunuh, lantas apakah maaf itu menyelesaikan semua? Tidak, sodara!

Untuk saya, maaf itu tidak terlalu penting tanpa ada penyesalan dan itikad baik untuk menyelesaikan masalah atau membuat kondisi menjadi lebih baik. Apalah arti maaf kalau yang penting itu ga ada?  Justru itu akan membebani kita toh? Maaf seperti itu hanya seperti balon gas yang ga diisi helium.

Kenapa saya marah? Saya sudah coba untuk tidak marah sebisa mungkin. Saya coba buang jauh-jauh apa yang ngeracunin otak dan hati saya. Racun nyalahin orang yang kadang susah dicegah. Saya tau kebanyakan dari kita cenderung menyalahkan orang lain sebagai bentuk defense mecanism. Saya coba buang perasaan itu, supaya jelas sebetulnya apa yang saya lakukan, salah atau benar, buruk atau baik. Tapi sayangnya, saya ga bisa mencegah apapun.

Saya terlanjur marah. Saya akan lebih marah pada diri saya. Saya yang lebih dulu membuat ini terjadi. Saya putus asa lalu menyalahkan orang lain mungkin. Semoga saya yang salah ya..


Tidak ada komentar: