Jumat, Oktober 18, 2013

Enigma

Malam berlalu, dan aku tak pernah bertanya apa yang terjadi ketika itu.
Cinta-cinta segulir malam, berputar begitu saja, siapa yang tahu siapa itu engkau.

Lihat cinta datang lagi, turun bersama purnama, pada sisinya jadi terang benderang.
Kapan kau datang lagi? Aku harap kau tak pernah kembali pulang.

Cintaku datang hanya ketika malam
Ketika bulu mata merapat seperti mengayam
Lalu aku duduk terbangun, bersila merapat.
Bersandar di punggungmu yang hangat.

Hai Tuan, siapa gerangan?
Aku hanya tahu ini cinta karena senyuman, juga genggaman.
Padahal cinta tak pernah sepolos itu
Kadang-kadang ada rindu juga cemburu.

Besok mau datang lagi kah di dentang pukul 12 malam?
Sayangnya malam ini terlalu temaram
Aku menunggumu hingga terlalu larut dalam pejam.`

Kau tak kunjung datang..

Kamis, Agustus 29, 2013

Nasib

Habis sudah masa kita. Kita tahu, dan saya terlalu muak dengan kata meraka; "Ada pertemuan, pasti ada perpisahan"

Masa kini membawa kenangan, tentang hujan yang membuat kita kuyup, malam yang selalu menyelimuti, angin yang bernyanyi, juga bintang yang menyinari. Masa kini yang menguak memori, melayang-layang seperti awan pasrah dibawa angin, namun lebih sering sempoyongan karena terlalu letih mengingat.

Adalah kamu pabrik kenangan, membungkus masa lalu dengan rapi. Namun juga senyap yang segera ramai jika telah tiba waktunya: Kita bertemu lagi.

Tidakkah setiap detik adalah nasib? Kau percaya itu? Waktu terlalu ribut berbicara, juga terlalu sibuk membongkar kejutan. Kadang kau heran, padahal kau paham itu nasib. KEJUTAN! Hidup ini terlalu rumit juga aneh untuk dijalani.

Ilalang, mengapa kau seperti menari? Padahal tubuhnya hanya tak mampu melawan angin. Bergerak kesana-kemari, membuat mata lelah -bagi yang memang sudah lelah- tapi, sangat banyak yang menikmati. Ilalang tumbuh di pekarangan rumah kosong. Kenapa di sana? Itu nasibnya. Banyak yang terheran-heran mengapa ilalang yang lain bisa mati, padahal ketika musim penghujan. Mereka mati karena mereka sudah waktunya mati. Banyak yang tak tahu saja, padahal ilalang itu mati tersiram bensin. Nasib.

Kenapa ilalang? Entahlah.

Hari ini bertemu, besok berpisah. Ada yang bisa kau lakukan selain mengenang? Diam-diam saya bertanya, mengapa kita bertemu dalam waktu yang terlalu singkat? Mengapa harus saya dengan kamu? Padahal rencana kita di hari sebelumnya tak pernah demikian. Kita tak pernah berrencana menjejakkan  kaki di tempat kita bertemu. Lalu nasib begitu saja berjumpa.

Masih saja kita terheran. Padahal kita terlalu paham juga muak karena ini adalah nasib. Sampai jumpa, jika berjumpa lagi.

Jumat, Juli 12, 2013

Sebuah Surat

Kini saatnya aku yang menyatakan seluruh hal yang ingin aku sampaikan, pada orang yang ingin sekali aku tujukan surat ini.

Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.

Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.

Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.

Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.

Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.

*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.

Rabu, Juni 26, 2013

Kopi Rindu

Ini denting kesepuluh
Cangkir kopi ketiga
Dalam satu rasa; Rindu...

Kuhirup kopi seperlunya.
Setelah harum kopiku, ada aromamu.
Syaraf-syarafku seperti dipelintir
Aku dibawa bergerak ke masa lalu.

Ada sumringah terpantul cantik di badan licin cangkir keramik putih
Juga kerling mata yang sejak tadi aku amati
Kaukah itu?

Hanya badan cangkir dengan pantulan wajahmu dan aku tak kuasa menoleh pada arah manapun itu.

Sedetik.. dua detik..

Oh, Tuhan..
Aku kenal betul rengkuhan ini
Dua tangan kuning langsat yang mengalir lembut di pundakku dan membentuk rengkuhan dari punggung ke dada.

Aku tak ingin membayangkan jika benar itu kau.

Hingga kunikmati saja wajahmu yang terpantul pada badan cangkir kopiku
Juga hangat sentuh rengkuh tanganmu
Lalu tak lama jua kau pergi.

Ternyata aku dalam mimpi.

Pasir Honje, 240513, 00:20

Tarian Malam

Kau tak tahu..
Adalah kau malam itu.
Gegap sunyi yang kau rayakan
Bersama binatang-binatang yang berkelana malam
Juga bintang-bintang yang selalu jujur pada pancarannya.
Aku berbisik tentang lagu riang
Yang mengiringimu memestakan hening
Juga bersama segala yang menyertaimu berpesta sunyi.

Aku bersandar di tembok-tembok dingin
Mataku yang tetap tetap terpatut pada tubuhmu yang bergerak
Gerakanmu lemah seumpama tarian kerajaan
Aku tetap pada bisik-bisik lagu riang.

Rayakan! Rayakan!

Aku tak mungkin memekik, membuyarkan segala yang merayakan sunyi
Aku berteriak dalam lirih, kau tertawa dalam lirih.

Inikah perayaan?

Aku semakin lebar tersenyum
Gerakanmu yang seperti tarian itu semakin berirama
Meski punggung panggung kabut malam pentasmu semakin rendah melayang dan lenyap menghilang.

Aku kembali menunggu malam.

Pasir honje, 230513, 01:30