Jumat, Juli 12, 2013

Sebuah Surat

Kini saatnya aku yang menyatakan seluruh hal yang ingin aku sampaikan, pada orang yang ingin sekali aku tujukan surat ini.

Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.

Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.

Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.

Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.

Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.

*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.

Rabu, Juni 26, 2013

Kopi Rindu

Ini denting kesepuluh
Cangkir kopi ketiga
Dalam satu rasa; Rindu...

Kuhirup kopi seperlunya.
Setelah harum kopiku, ada aromamu.
Syaraf-syarafku seperti dipelintir
Aku dibawa bergerak ke masa lalu.

Ada sumringah terpantul cantik di badan licin cangkir keramik putih
Juga kerling mata yang sejak tadi aku amati
Kaukah itu?

Hanya badan cangkir dengan pantulan wajahmu dan aku tak kuasa menoleh pada arah manapun itu.

Sedetik.. dua detik..

Oh, Tuhan..
Aku kenal betul rengkuhan ini
Dua tangan kuning langsat yang mengalir lembut di pundakku dan membentuk rengkuhan dari punggung ke dada.

Aku tak ingin membayangkan jika benar itu kau.

Hingga kunikmati saja wajahmu yang terpantul pada badan cangkir kopiku
Juga hangat sentuh rengkuh tanganmu
Lalu tak lama jua kau pergi.

Ternyata aku dalam mimpi.

Pasir Honje, 240513, 00:20

Tarian Malam

Kau tak tahu..
Adalah kau malam itu.
Gegap sunyi yang kau rayakan
Bersama binatang-binatang yang berkelana malam
Juga bintang-bintang yang selalu jujur pada pancarannya.
Aku berbisik tentang lagu riang
Yang mengiringimu memestakan hening
Juga bersama segala yang menyertaimu berpesta sunyi.

Aku bersandar di tembok-tembok dingin
Mataku yang tetap tetap terpatut pada tubuhmu yang bergerak
Gerakanmu lemah seumpama tarian kerajaan
Aku tetap pada bisik-bisik lagu riang.

Rayakan! Rayakan!

Aku tak mungkin memekik, membuyarkan segala yang merayakan sunyi
Aku berteriak dalam lirih, kau tertawa dalam lirih.

Inikah perayaan?

Aku semakin lebar tersenyum
Gerakanmu yang seperti tarian itu semakin berirama
Meski punggung panggung kabut malam pentasmu semakin rendah melayang dan lenyap menghilang.

Aku kembali menunggu malam.

Pasir honje, 230513, 01:30

Selasa, Mei 21, 2013

Magis

Di sebuah sore, dalam sebuah rumah nan mungil di suatu kampung yang sangat jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung. Yaitu di Desa Cisereuh, Kabupaten Bandung Barat. Sore itu adalah hari kedatangan saya ke kampung itu. Saya berniat untuk membantu sedikit pekerjaan dinas teman saya sekaligus untuk melepas penat sambil bersilaturahmi. Tak ada yang akan saya ceritakan tentang berbagai konflik di desa ini. Padahal konflik utama di desa ini cukup menarik untuk saya bicarakan, dan konflik ini adalah penyebab utama mengapa teman saya tersebut ditugaskan di tempat ini. Namun ada hal yang lebih menarik untuk saya perbincangkan karena hal ini sangat menggugah pikiran saya belakangan ini.

Sore itu, saya habis mengisi acara untuk anak-anak. Bukan acara besar, hanya sedikit permainan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka agar mahir bicara di publik. Lelah. Itu bukan semata karena saya habis mengisi acara tersebut, tapi karena perjalanan menuju desa itu sangat jauh, ditambah infrastruktur yang sangat amburadul. Singkat cerita, setelah acara selesai dan anak-anak pulang, kami solat ashar, dan setelah itu kami duduk-duduk di ruang tengah sambil bercanda dan bertukar pikiran. Di sela tawa kami, teman salah satu teman saya melontarkan satu pertanyaan seperti ini; "Menurutmu, orang tua itu punya 'power' atau tidak untuk hidupmu? Dan seberapa besar powernya?"

Heh? Kau gila? Tanyaku dalam hati. Ini bukan pertanyaan menurutku, karena tadinya saya pikir semua orang akan punya jawab serupa dengan saya. "YA, PASTI!" Jika ditanya seberapa besar. Saya akan menjawab "BESAR SEKALI"

Temanku si pelontar pertanyaan itu memberi kesempatan pada empat temanku yang lain terlebih dulu, artinya saya dapat giliran terakhir untuk menjawab. Saya mulai keheranan karena semua temanku menjawab bahwa orang tua mereka sudah tak memiliki 'power' lagi bagi hidup mereka. Mereka berdalih karena mereka sudah jauh mandiri. Saya coba menerka, mungkin karena mereka sendiri yang berusaha lepas dari segala 'power' orang tua terhadap dirinya. Saya ragu.

Oo My! Selekat itukah saya pada orang tua?

Oke, supaya persepsi kita sama, saya jelaskan apa itu 'power' yang teman saya maksud diatas ini. Baginya, 'power' orang tua itu adalah segala bentuk pengaruh orang tua bagi diri kita. Termasuk seberapa besar kebutuhan kita pada orang tua.

Kali ini, giliran saya menjawab. Untuk ukuran perempuan dewasa seperti saya, mungkin teman-teman lain yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban 'SUDAH TIDAK ADA POWER', mungkin keheranan dengan jawaban mantap saya, bahwa saya orang tua saya masih sangat berpengaruh besar bagi hidup saya. Lho, Jangan cemooh saya dulu.

Baiklah, jika ada orang yang mendelik dan berbisik saya adalah 'Anak Mama', ya.. silakan. Tapi begini, bagi saya, orang tua saya itu magis seperti dukun. Ya, katakanlah seperti itu, karena saya senang memberi contoh yang sangat ekstrim. Bagi saya, orang tua itu adalah kebutuhan spiritual yang harus selalu saya penuhi supaya hidup saya tidak kerontang. Hal-hal ini tidak ada kaitan dan hubungannya dengan kemandirian saya di kehidupan saya sehari-hari. Saya tak mau sesumbar bahwa diri saya sudah jauh dari mandiri, tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sudah pernah berpisah dengan orang tua saya ketika usia saya 12 tahun. Selama empat tahun saya nyantri di sebuah daerah yang cukup jauh dari rumah. Rasanya sulit kalau saya harus ditengok paling tidak sebulan sekali, karena saya sudah bilang tadi, lokasi pesantren saya cukup jauh dari rumah dan orang tua pasti kerepotan. Saya terbiasa tanpa orang tua. Memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri (padahal asal-usul finansial masih dari orang tua), dan mengatasi konflik sendiri karena orang yang biasa saya tumpui itu sedang berada jauh dari saya. Ya, segalanya serba sendirii. Meski banyak teman disana dan juga ada wali, namun masih kering rasanya. Di rangkaian kebutuhan itu, yang saya butuhkan hanya sekedar bicara, menambah ketuhanan saya dengan berbicara dan memohon restu pada mereka. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Ya paling canggih adalah menelpon mereka dan sekadar bilang "Bu, aku rindu. Sampaikan salam pada Ayah. Aku mohon restu". Cukup. Begitu pula ketika hari-hari saya di tempat lain, misal ketika ada urusan di luar kota, paling tidak itu yang saya ucapkan setiap ibu saya menelpon atau sebaliknya.

Saya percaya magis, dan magis itu adalah orang tua. Saya bukan orang menye-menye yang suka diatur oleh orang tua. Namun saya orang bebas karena suka kebebasan. Magis itu yang memperkuat jalan saya, kemanapun itu. Bahkan ketika saya telah berjalan menuju kebebasan dan ketika saya telah bebas. Saya biarkan diri saya kembali pulang dan terpengaruh lagi pada kekuatan magis orang tua saya, dan akan terus seperti itu. Bukan karena tak ingin bebas sebebasnya, tapi justru untuk memperkuat spiritual saya untuk bebas. Bebas memilih dan menentukan arah kebebasan yang saya cari.

Mengembara, berkelana, atau melanglang seberapapun jauhnya dari rumah, rumah akan menjadi tempat untuk menyegarkan spiritual saya. Saya begitu paham bahwa orang tua sayapun tidak akan berlama-lama tinggal di dunia ini. Peluk, belaian, uluran tangan mereka yang senantiasa ada ketika saya jatuh akan lekang jua dan menjadi kenangan. Tapi perwujudan orang tua sebagai salah satu sumber spiritual saya adalah bukan fisik dan juga bukan rumah tempat tinggal orang tua saya. Namun, Mahaguru yang bercokol dalam sanubari yang berurat dan berakar dalam diri saya, sampai tiba masanya kita bertemu lagi di lain tempat dan waktu.

Kamis, Mei 09, 2013

PHP

Buat anak muda jaman sekarang sih, PHP itu bukan bahasa asing lagi ya. Bahkan PHP ini sudah menjadi kata kerja dan kata sifat selain untuk subjek. Misal, "Eh, si kunyuk itu nge-php-in cewe yang kemaren kenalan di chatting itu lho.." atau "Siyal, gue di-php-in sama cowo itu!" Dan sebagainya..

Oke, karena beberapa pembaca blog saya ini ibu-ibu juga, jadi saya mau jelaskan sedikit apa itu PHP. Jadi PHP adalah sebuah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Dari frasenya saja sudah pasti tindakan ini adalah tindakan kurang menyenangkan. Bahkan kriminil hehe.. Ya, ibarat orang bilang ini asli padahal palsu, kan bisa kena UU penipuan XP

Kebanyakan korban sih perempuan, tapi korban dari kaum laki-laki juga ga kalah banyak. Sebetulnya, korban PHP itu semacam dianggurin sekian lama setelah lama pedekate. Awalnya friendzone atau adik-kakak tapi lama-lama malah jadi bingung sama hubungan yang mau dibawa kemana. Boro-boro berharap mau hidup sehidup-semati, dipacarin aja ngga. Eaaa..

Jadi ingat kata Bang Napi, kalau kejahatan itu terjadi karena ada kesempatan, dan itu benar adanya. Saya sih yakin awalnya, para korban mau aja dirayu, (misalnya) sama laki-laki, dan itu semua karena ada kesempatan untuk merayu. Kemudian keasikan digombalin akhirnya berharap.

Saya pikir, PHP itu ga melulu salah lagi. Wajar orang merayu, dan merayu itu bisa saja untuk banyak (kemungkinan) kepentingan. Lalu, kenapa jadi merasa kecakepan terus berharap. Oke.. bahasanya saya perhalus, kenapa jadi merasa pantas untuk dirayu?

Iya, saya pernah muda, dulu pernah jadi korban PHP. Tapi ya, itu dulu. Jadi korban itu bukan menjadi orang yang patut dikasihani, justru merasa bodoh dan jangan sampai pernah terulang lagi.