Di sebuah sore, dalam sebuah rumah nan mungil di suatu kampung yang sangat jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung. Yaitu di Desa Cisereuh, Kabupaten Bandung Barat. Sore itu adalah hari kedatangan saya ke kampung itu. Saya berniat untuk membantu sedikit pekerjaan dinas teman saya sekaligus untuk melepas penat sambil bersilaturahmi. Tak ada yang akan saya ceritakan tentang berbagai konflik di desa ini. Padahal konflik utama di desa ini cukup menarik untuk saya bicarakan, dan konflik ini adalah penyebab utama mengapa teman saya tersebut ditugaskan di tempat ini. Namun ada hal yang lebih menarik untuk saya perbincangkan karena hal ini sangat menggugah pikiran saya belakangan ini.
Sore itu, saya habis mengisi acara untuk anak-anak. Bukan acara besar, hanya sedikit permainan untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka agar mahir bicara di publik. Lelah. Itu bukan semata karena saya habis mengisi acara tersebut, tapi karena perjalanan menuju desa itu sangat jauh, ditambah infrastruktur yang sangat amburadul. Singkat cerita, setelah acara selesai dan anak-anak pulang, kami solat ashar, dan setelah itu kami duduk-duduk di ruang tengah sambil bercanda dan bertukar pikiran. Di sela tawa kami, teman salah satu teman saya melontarkan satu pertanyaan seperti ini; "Menurutmu, orang tua itu punya 'power' atau tidak untuk hidupmu? Dan seberapa besar powernya?"
Heh? Kau gila? Tanyaku dalam hati. Ini bukan pertanyaan menurutku, karena tadinya saya pikir semua orang akan punya jawab serupa dengan saya. "YA, PASTI!" Jika ditanya seberapa besar. Saya akan menjawab "BESAR SEKALI"
Temanku si pelontar pertanyaan itu memberi kesempatan pada empat temanku yang lain terlebih dulu, artinya saya dapat giliran terakhir untuk menjawab. Saya mulai keheranan karena semua temanku menjawab bahwa orang tua mereka sudah tak memiliki 'power' lagi bagi hidup mereka. Mereka berdalih karena mereka sudah jauh mandiri. Saya coba menerka, mungkin karena mereka sendiri yang berusaha lepas dari segala 'power' orang tua terhadap dirinya. Saya ragu.
Oo My! Selekat itukah saya pada orang tua?
Oke, supaya persepsi kita sama, saya jelaskan apa itu 'power' yang teman saya maksud diatas ini. Baginya, 'power' orang tua itu adalah segala bentuk pengaruh orang tua bagi diri kita. Termasuk seberapa besar kebutuhan kita pada orang tua.
Kali ini, giliran saya menjawab. Untuk ukuran perempuan dewasa seperti saya, mungkin teman-teman lain yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban 'SUDAH TIDAK ADA POWER', mungkin keheranan dengan jawaban mantap saya, bahwa saya orang tua saya masih sangat berpengaruh besar bagi hidup saya. Lho, Jangan cemooh saya dulu.
Baiklah, jika ada orang yang mendelik dan berbisik saya adalah 'Anak Mama', ya.. silakan. Tapi begini, bagi saya, orang tua saya itu magis seperti dukun. Ya, katakanlah seperti itu, karena saya senang memberi contoh yang sangat ekstrim. Bagi saya, orang tua itu adalah kebutuhan spiritual yang harus selalu saya penuhi supaya hidup saya tidak kerontang. Hal-hal ini tidak ada kaitan dan hubungannya dengan kemandirian saya di kehidupan saya sehari-hari. Saya tak mau sesumbar bahwa diri saya sudah jauh dari mandiri, tapi itulah yang saya rasakan saat ini. Saya sudah pernah berpisah dengan orang tua saya ketika usia saya 12 tahun. Selama empat tahun saya
nyantri di sebuah daerah yang cukup jauh dari rumah. Rasanya sulit kalau saya harus ditengok paling tidak sebulan sekali, karena saya sudah bilang tadi, lokasi pesantren saya cukup jauh dari rumah dan orang tua pasti kerepotan. Saya terbiasa tanpa orang tua. Memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri (padahal asal-usul finansial masih dari orang tua), dan mengatasi konflik sendiri karena orang yang biasa saya tumpui itu sedang berada jauh dari saya. Ya, segalanya serba sendirii. Meski banyak teman disana dan juga ada wali, namun masih kering rasanya. Di rangkaian kebutuhan itu, yang saya butuhkan hanya sekedar bicara, menambah ketuhanan saya dengan berbicara dan memohon restu pada mereka. Namun, apa yang bisa saya lakukan? Ya paling canggih adalah menelpon mereka dan sekadar bilang "Bu, aku rindu. Sampaikan salam pada Ayah. Aku mohon restu". Cukup. Begitu pula ketika hari-hari saya di tempat lain, misal ketika ada urusan di luar kota, paling tidak itu yang saya ucapkan setiap ibu saya menelpon atau sebaliknya.
Saya percaya magis, dan magis itu adalah orang tua. Saya bukan orang menye-menye yang suka diatur oleh orang tua. Namun saya orang bebas karena suka kebebasan. Magis itu yang memperkuat jalan saya, kemanapun itu. Bahkan ketika saya telah berjalan menuju kebebasan dan ketika saya telah bebas. Saya biarkan diri saya kembali pulang dan terpengaruh lagi pada kekuatan magis orang tua saya, dan akan terus seperti itu. Bukan karena tak ingin bebas sebebasnya, tapi justru untuk memperkuat spiritual saya untuk bebas. Bebas memilih dan menentukan arah kebebasan yang saya cari.
Mengembara, berkelana, atau melanglang seberapapun jauhnya dari rumah, rumah akan menjadi tempat untuk menyegarkan spiritual saya. Saya begitu paham bahwa orang tua sayapun tidak akan berlama-lama tinggal di dunia ini. Peluk, belaian, uluran tangan mereka yang senantiasa ada ketika saya jatuh akan lekang jua dan menjadi kenangan. Tapi perwujudan orang tua sebagai salah satu sumber spiritual saya adalah bukan fisik dan juga bukan rumah tempat tinggal orang tua saya. Namun, Mahaguru yang bercokol dalam sanubari yang berurat dan berakar dalam diri saya, sampai tiba masanya kita bertemu lagi di lain tempat dan waktu.