Kamis, Oktober 24, 2013

Resah dan Peristiwa

Sudah dua malam ini aku tidur ditemani gelisah. Andaikan ada satu saja orang yang mau sekedar paham pada situasi yang menyelimutiku ini, pasti aku tak seresah ini. Biar saja mataku tetap berkedip, karena ingin kubagi dera itu pada siapa saja yang mau mengerti. Namun, aku tak pernah punya pilihan selain tetap terjaga, membuat seolah-olah ini bukan hal besar, paling tidak di khayalanku.

Aku ingin jadi makhluk astral yang bisa berpindah tempat kapanpun aku mau dalam sekejap. Mungkin kali ini di pantai, atau detik ini juga pindah ke venus. Paling tidak  dalam belalak mataku kali ini, aku tak berhenti berkelakar tentang bagaimana aku hidup seperti yang aku mau. Jadi pangeran duyung yang berenang di laut, dikawal sekelompok ikan ekor kuning, atau jadi penguin betina yang mencari makan untuk penguin jantan yang sedang menjaga telur-telur, atau jadi batu yang pasrah saja berdebu. Sukaku saja. Mauku.

Aku menyeduh teh hitam. Namanya tetap teh hitam meski ia tak sepekat kopi. Aku rindu harum melati pada batang-batang teh yang kuseduh. Aroma teh campur melati selalu sanggup mengendurkan syarafku yang mungkin telah lama kejang, namun malam ini aroma itu sirna. Pembauku saja rasanya mati. Kepalaku tak berhenti bekerja dalam tekanan resah di frekuensi paling tinggi. Aku duduk pada tulang jendela, mencoba menahan waktu dengan hal yang tak kususka. Menunggu waktu subuh.

Aku tersentak pada suara derit pintu disela lamunan panjangku. Kepala ibu menyembul di balik pintu, rambut hitamnya menjuntai hingga gagang pintu. Aku terkejut, seolah lamunanku tentang makhluk astral benar terjadi.
"Kau sudah bangun, Nak?"
"Aku belum juga tidur" 
Ibu merebahkan tubuhnya di dipan tempatku biasa terlelap. Ibu mengubah posisi tubuhnya, kali ini jantungnya dibebani oleh beban tubuhnya. Sejenak aku memperhatikannya, lalu pandanganku kembali keluar jendela. Ibu berusaha menemaniku hingga terdengar sahut-sahut adzan subuh mendayu-dayu merdu. Sebentar lagi surya tiba. Langit jadi biru lagi dan resahku tak kunjung pulang. Ibu selalu hanya seolah mengerti, tapi kuhargai usahanya. Ibu tak pernah mengerti, bukan karena ibu yang tak peduli, tapi karena aku yang tak mau dikasihani. Ini jadi sekedar pilihan, padahal aku tak mau resah sendiri.

Surya tiba, langit belum biru cerah. Sisa pekat malam masih merajai, langit menjadi ungu dengan pendar tembaga mentari. Ibu menyeduh teh hitam lagi, kali ini terasa lebih manis dari seduhan semalam. Rahangku seolah menciut kaget oleh legitnya.
"Sarapan dulu, Ratih.."
"Tidak, Bu.. Hari ini terlalu sibuk"
Aku berjalan pelan menjauhi gerbang rumah. Sekali lagi aku menoleh ke rumah kecilku itu, aku melihat ibu tak henti memandangiku sambil bersandar di pintu. Langit mulai biru, jalan gang kecil dekat rumahku masih sepi, hanya ada seorang ibu dengan dua keranjang besar berisi kangkung, dan seorang anak kecil dengan seragam putih merah dan tas pundak yang lebih besar dari tubuhnya. Aku terus berjalan menuju jalan raya, menuju tempat biasa aku menunggu angkutan kota yang membawaku ke kantor. Sudah tiga meter di tempatku biasa menunggu, ibu menelpon. Dompetku tertinggal di rumah.

Aku kembali ke rumah dengan rasa gembira. Entahlah. Aku mulai merasa memang tak harus ke kantor hari ini. Aku lelah dirajai  resah. Aku butuh diam lebih lama. Baru saja tiba di gerbang, aku melihat dua laki-laki tegap dan rapi berdiri di depan pintu. Kurasa ada ibu di situ, tapi badan ibu terlalu kecil untuk dua laki-laki tegap tersebut hingga badan ibu tak terlihat. Aku menghambur penuh tanda tanya.

Ibu menangis menutup wajahnya. Aku jadi turut menangis, meski aku belum tahu sedikitpun duduk permasalahannya. Aku selalu tak pernah sanggup melihat ibu menangis. Tubuh ibu melorot di tebok, aku menopangnya dan ikut duduk bersimpuh di sampingnya. Memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya.

Dua laki-laki tegap dan rapi itu segera pamit dan menyerahkan dua buah amplop coklat besar. Ibu memeluknya dan masih terus menangis. Tanda tanyaku semakin besar. Dua orang tegap dan rapi itu sudah pergi, tapi derap langkahnya masih saja seperti terdengar di telingaku.
"Kenapa, Bu?"
Ibu hanya menggeleng lemah. Dua lelaki tegap dan rapi itu ajudan ayahku. Aku tak begitu dekat dengan ayahku, dia ada pejabat teras yang beristri dua, ibuku istri keduanya. Ayahku hanya datang ketika ia mau, kurasa. Di lain waktu datang hanya jika aku atau ibu berulang tahun. Dua hari lagi adalah ulang tahunku. Meski aku kini adalah perempuan, ayahku tak pernah lupa datang hanya sekedar membawa seikat bunga dan hadiah, tak lupa pelukan.

Ayahku meninggal, begitu kata dua ajudan ayahku pada ibu. Ibuku adalah perempuan yang sangat mencintai ayah, meskipun aku sangat sangsi bila ayah bilang dia juga sangat mencintai ibu. Dua ajudan ayah hanya menyampaikan kabar duka itu dan pergi, serta dua amplop yang aku tak tahu apa isinya. Mungkin, titipan warisan. Tapi ada satu pesan ajudan itu pada ibu agar ibu  tak perlu datang ke pemakaman ayah. Keluarga ayah yang di sana tentu akan malu, jika ibu datang. Karena ibu pernah jadi cibiran.

Aku berhenti menangis. Kurasa resahku terjawab. Dua hari lalu ketika pulang dari kantor, aku mendengar dua orang berbincang mengenai ayahku. Ayahku tersandung beberapa kasus suap dengan beberapa perusahaan. Setelah mendengar itu aku menjadi bimbang. Aku bukan tak tahu berita itu dari televisi, tapi mendengar dua orang bergunjing rasanya hatiku jadi terluka. Selama di rumah aku menjadi resah. Aku dan ibu terpaut dekat, hingga jika salah satu dari kami resah, maka kami turut resah. Semua kejadian itu tak kuceritakan pada ibu. Aku terlalu khawatir. Sejak itu aku jadi terus memikirkan ayah. Bukan karena kasusnya tapi aku jadi sangat ingin bertemu dengannya. Hanya rindu?

Aku tak pernah terlalu kenal pada ayah, apalagi terlalu rindu. Namun, darah yang mengalir di tubuhku tak pernah sekalipun berbohong bahwa dia ayahku. Firasat membawaku hingga aku jatuh terbaring pada keresahan paling dalam. Hingga aku tahu resahku datang dari mana. Aku rindu ayahku, bukan karena kami jarang bertemu. Hanya rindu karena kita takkan lagi bertemu.





Rabu, Oktober 23, 2013

Gemas

Piye kabare?

Ehem. Ada beberapa bagian hidup yang rasanya sulit untuk kita terima dengan baik. Bukan karena kita tak mengerti jika bagian itu harusnya kita jalani saja dan bagian itu akan berlalu karena tertelan masa. Tapi bisa kah mengerti apa makna dibalik menjalani? Penuh teka-teki di balik kata 'menjalani', yaitu bagaimana bisa setiap orang mampu berjuang menerima, dan membuat segalanya menjadi lebih baik.

Semudah apa orang dapat menerima apa-apa yang Tuhan berikan pada mereka? Kita boleh saja menganggap apa yang orang lain alami tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sedang kita terima. Namun, dibalik itu semua, setiap manusia memiliki kondisi mental, dan pengalaman yang berbeda mengenai hidup. Bisa jadi masalah itu terkesan ringan (untuk kita), tapi kita tak pernah tau apa yang sesungguhnya mereka rasakan, juga kita tak pernah tahu bagaimana mereka berjuang untuk menyelesaikan segalanya dengan pengalaman yang mereka miliki.

Ten, ngomongin hidup lagi?

Haha.. Saya terlalu naif memandangi masalah-masalah yang mampir silih berganti di hidup saya. Muak? Ah, masalah saya bukan apa-apa dibanding dengan monyet-monyet yang harus bekerja dan disiksa, dan sukurnya, kini mereka resign dari pekerjaannya karena Jowoki harus "membersihkan" mereka dari jalanan ibu kota.

Lalu, mengapa bicara tentang masalah lagi?

Hmm.. Saya mau membuka diri lebih lebar lagi, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk mencerca apa-apa cobaan yang Tuhan berikan pada kita. Semisal motor yang mogok ketika kita harus segera mungkin tiba di suatu tempat. Memaki? Ya, memaki mesin yang berhenti menderu, padahal selalu ada campur tangan yang lain di balik itu semua.

Bukan sekedar masalah itu, tetapi juga tentang bagaimana mulai membuka mata dengan lebar bahwa kita tak lebih dari manusia biasa. Kita lahir tanpa agama, bahkan tanpa ingat pada siapa dulu kita pernah berjanji tak akan selalu beriman. Hidup buka sekedar menerima, tapi juga menuntut apa yang mau kita dapat. Dalam ilmu agama kita harus menerima, tapi lupakah kita bahwa agama menyuruh kita berusaha? Dalam banyak perkara, kita lupa menerima, lupa berusaha, padahal itu yang harus kita perbuat.

Sudah, Ten.. Sudah!

Belum! Masih juga gemas bagaimana saya harus bisa memahami hal-hal di balik sesuatu. Kenapa orang mengemis, kenapa orang jadi banci, kenapa orang dipecat, kenapa orang bisa diselingkuhi, kenapa orang tuanya bercerai, kenapa anak itu putus sekolah dan lainnya. Emosi paling sederhana ialah rasa simpati pada mereka. Tapi jika kita paham bagaimana memaknai segalanya, kita akan lebih baik menilai, lebih tepat memilih  "bagaimana mengasihani" mereka.

Omonganmu makin kacau, Ten..

Ya, saya memang terlalu kacau dengan mencoba bijak dengan prahara-prahara yang sedang saya alami. Silakan menilai saya adalah drama queen, layaknya selebritis hilang popularitas yang cari sensasi dengan poto telanjang. Semacam itu memang. Naif.


Jumat, Oktober 18, 2013

Enigma

Malam berlalu, dan aku tak pernah bertanya apa yang terjadi ketika itu.
Cinta-cinta segulir malam, berputar begitu saja, siapa yang tahu siapa itu engkau.

Lihat cinta datang lagi, turun bersama purnama, pada sisinya jadi terang benderang.
Kapan kau datang lagi? Aku harap kau tak pernah kembali pulang.

Cintaku datang hanya ketika malam
Ketika bulu mata merapat seperti mengayam
Lalu aku duduk terbangun, bersila merapat.
Bersandar di punggungmu yang hangat.

Hai Tuan, siapa gerangan?
Aku hanya tahu ini cinta karena senyuman, juga genggaman.
Padahal cinta tak pernah sepolos itu
Kadang-kadang ada rindu juga cemburu.

Besok mau datang lagi kah di dentang pukul 12 malam?
Sayangnya malam ini terlalu temaram
Aku menunggumu hingga terlalu larut dalam pejam.`

Kau tak kunjung datang..

Kamis, Agustus 29, 2013

Nasib

Habis sudah masa kita. Kita tahu, dan saya terlalu muak dengan kata meraka; "Ada pertemuan, pasti ada perpisahan"

Masa kini membawa kenangan, tentang hujan yang membuat kita kuyup, malam yang selalu menyelimuti, angin yang bernyanyi, juga bintang yang menyinari. Masa kini yang menguak memori, melayang-layang seperti awan pasrah dibawa angin, namun lebih sering sempoyongan karena terlalu letih mengingat.

Adalah kamu pabrik kenangan, membungkus masa lalu dengan rapi. Namun juga senyap yang segera ramai jika telah tiba waktunya: Kita bertemu lagi.

Tidakkah setiap detik adalah nasib? Kau percaya itu? Waktu terlalu ribut berbicara, juga terlalu sibuk membongkar kejutan. Kadang kau heran, padahal kau paham itu nasib. KEJUTAN! Hidup ini terlalu rumit juga aneh untuk dijalani.

Ilalang, mengapa kau seperti menari? Padahal tubuhnya hanya tak mampu melawan angin. Bergerak kesana-kemari, membuat mata lelah -bagi yang memang sudah lelah- tapi, sangat banyak yang menikmati. Ilalang tumbuh di pekarangan rumah kosong. Kenapa di sana? Itu nasibnya. Banyak yang terheran-heran mengapa ilalang yang lain bisa mati, padahal ketika musim penghujan. Mereka mati karena mereka sudah waktunya mati. Banyak yang tak tahu saja, padahal ilalang itu mati tersiram bensin. Nasib.

Kenapa ilalang? Entahlah.

Hari ini bertemu, besok berpisah. Ada yang bisa kau lakukan selain mengenang? Diam-diam saya bertanya, mengapa kita bertemu dalam waktu yang terlalu singkat? Mengapa harus saya dengan kamu? Padahal rencana kita di hari sebelumnya tak pernah demikian. Kita tak pernah berrencana menjejakkan  kaki di tempat kita bertemu. Lalu nasib begitu saja berjumpa.

Masih saja kita terheran. Padahal kita terlalu paham juga muak karena ini adalah nasib. Sampai jumpa, jika berjumpa lagi.

Jumat, Juli 12, 2013

Sebuah Surat

Kini saatnya aku yang menyatakan seluruh hal yang ingin aku sampaikan, pada orang yang ingin sekali aku tujukan surat ini.

Masih terkenang jelas dalam memoriku, beberapa tahun silam, aku hanyalah remaja putri yang sepertinya hanya mengerti apa itu bermain dan sedikit mengerti tentang asa yang perlahan aku bangun dengan caraku sendiri. Ya, aku tak tahu apapun kecuali itu. Hingga akhirnya aku mengenalmu. Segala tawamu, candamu, tangismu dan marahmu yang selalu berhasil mengisi hari-hariku. Tanpa ada yang luput, karena segalanya membekas.

Hingga suatu ketika kita tak pernah lagi bertemu, aku telah rela menjadikan kau memori yang indah untuk dikenang. Sejak kita tak bertemu, aku tak pernah peduli dimana kau, tak peduli lagi dengan segala hal yang kau lakukan. Akupun belajar untuk sudi mengubur apapun perasaan yang terlanjur tumbuh untukmu. Dan hal itulah yang tak berhasil aku lakukan. Aku bertemu lagi denganmu dengan cara yang mengejutkan.

Kau serupa lembar-lembar cerita masa lalu yang penuh emosi. Keras tawamu terdengar lagi, senyummu hadir dan terbayang lagi. Sayangnya kita bertemu dalam kondisi yang terlalu rumit. Mengapa? Jelas aku tak paham jenis situasi macam apa ini.

Selamat datang kuucapkan, pada kenangan yang ingin sekali aku buang, namun aku terlalu segan untuk melakukannya. Juga tentunya pada kamu yang surat ini harusnya tertuju.

Aku ingin sekali pergi dan hingga kini aku selalu mencoba untuk pergi. Aku takut terluka. Aku takut.

*Berharap tulisan ini hanya fiktif belaka.