Sabtu, April 26, 2014

Jarak

Berapa jarak kau dan aku?
Biar saja ia ribuan hasta
Tapi jarak bukan hanya raga,
Ragaku dan ragamu

Adalah hatiku,
Juga hatimu
Hanya sebatas darah yang mengalir pada nadi.
Lekat.

Biarlah tak sempurna
Karena sempurna adalah kegaiban

-Pasir honje, 11:52

Selasa, April 22, 2014

Masa itu

Pada ayah saya berkata, "Jangan pernah bersedih lagi, Pap..". Tetapi pada suatu hal yang tidak saya ketahui, saya ini terlalu tidak sabar. Sedih adalah proses. Dalam sedih ada doa, dalam sedih ada permohonan yang tulus, dalam sedih ada permintaan ampun. Saya naif.

Pada suatu hal yang tidak saya ketahui pula, saya lupa berterimakasih pada keadaan yang membuat saya semakin mengerti banyak hal. Jauh dari itu, saya yang lemah ini dipaksa tumbuh diantara duri. Saya marah, dan tidak terima. Namun, tetiba saya mulai duri-duri itu yang menyangga badan lemah ini, untuk tumbuh lebih besar lagi, lebih kuat lagi. Saya bersyukur.

Pada suatu ketika, di suatu hari yang sepi dan sedih, saya pernah berdoa agar segala yang memberatkan kepala saya ini harus segera lenyap. Ketika itu saya jg lupa bagaimana itu kepala yang tenang namun tidak kesepian. Saya coba hibur diri saya dengan pelbagai cara. Hal lain bermunculan, saya kepala saya semakin sibuk, seperti dua orang yang ribut akan pergi makan ke mana. Percayalah, mereka memang tak pernah hilang. Hanya saja mereka saban-saban melumpuh dan saban-saban akan menyerang kembali. Entah kapan, waktu yang menjawab.

Kali ini kesadaran saya tengah pada titik tersadar. Di tingkat kesadaran hampir sempurna. Semakin cemas, semakin memohon, semakin lupa bagaimana itu tidak khawatir. Pada masa saya harus semakin sedia kapan mereka menyerang lagi.

Saya enggan pergi (karena terlalu cemas), hanya saja hidup itu adalah perjalanan. Jika tak mau pergi, bagaimana bisa kusebut hidupku ini adalah kehidupan. Pada masa itu saya bimbang. Di masa kini ini, saya benar-benar sedang besiap pergi.

Masa itu adalah cerita ketika itu. Suatu hal yang telah berlalu. Ingatlah bahwa Tuhan saya pernah bersumpah demi waktu. Adalah masa senggang, lapang dan pikiran tenang itu adalah milikku, ketika itu. Tetapi adanya masa itu telah berlalu diganti oleh masa yang kekinian. Dan akan berlalu juga. Begitu seterusnya, hingga waktu telah habis memakan tulang dan kulitmu.

Peristiwa hanya soal kejadian terkait waktu.

Pasir honje, 22:55.

Sabtu, Februari 22, 2014

Let Him Go

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love him when you let him go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love him when you let him go
And you let him go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast
You see him when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch, oh it dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love him when you let him go
Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home


--Credit from the original song Let her go, by Passenger.

Maaf (2)

Selalu ada luka di setiap kata maaf. Ia meruahkan apa yang telah tertata rapi, membuka yang telah tertutup dan melukai luka yang telah perlahan mengering. Menyibak apa saja yang telah terjadi padahal baru saja terlupakan. Sedari itu saya selalu tidak menyukai kata maaf.

Maaf menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masa lalu. Mengapa hal ini terjadi, dan hal yang itu tidak terjadi. Padahal biarkan saja semua berlalu. Tak perlu kata-kata, jika bisa, simpan saja maafmu dalam perilakumu.

Saya selalu berusaha agar tak berlelah-lelah marah. Karena bagi saya marah adalah menuntut sesuatu yang berarti, juga menanti maaf. Tapi bukan itu. Andai saja kau tahu bagaimana caraku mencintai diriku sendiri. Andai saya bisa menjelaskannya.

Apa-apa yang pernah terjadi tak perlu kau sesali. Sekali lagi, tak perlu maaf. Hanya pergi saja.

Minggu, Januari 05, 2014

Kembali

Kadang saya merasa tersudut, merasa kecil, merasa terpuruk dan perasaan buruk lainnya akibat perasaan yang saya buat-buat sendiri. Mengapa? Saya terlalu sibuk dengan penilaian orang lain. Saya juga terlalu takut pada apa-apa saja yang akan mereka lakukan pada saya. Cara saya terlalu bodoh dalam menghargai diri saya sendiri, dan saya paksa nalar saya bekerja terlalu keras agar semua tampak logis. Saya sungguh sangat terkecoh. Semua tidak melulu demikian.

Beberapa lama waktu ini, saya berusaha meninggalkan mereka (orang-orang yang sangat peduli pada saya). Saya sudah berjanji akan kembali setelah urusan saya semua selesai, tetapi kapan urusan di dunia ini yang benar-benar akan selesai? Segala macam urusan tidak akan pernah habis. Karena perkara yang lain akan terus datang dan perkara yang lalu kadang hanya menjinak dan bisa membuas kapan saja. Lalu kapan saya akan kembali?

Sekian lama saya mengulur waktu, sibuk dengan urusan (yang padahal tidak akan pernah usai). Kemudian saya mulai dihinggapi rasa kesepian. Dulu mereka selalu ada mengisi hari saya, sekadar datang dan duduk di samping saya sambil berkata-kata yang indah mengenai hidup dan saya terpesona, lalu gairah hidup saya kembali meletup. 

Seolah itu semua hanya akan jadi kenangan, dan pada akhirnya saya betul-betul menangis karena kesepian, juga rindu. Saya kesepian di kerumunan manusia yang tidak saya kenal. Untuk orang yang dicap periang, saya ini terlalu pemurung juga pendendam. Tiga, bahkan lima orang yang sekarang ini bersama saya, tidak benar-benar bersama saya. Saya tidak bermaksud mengecilkan mereka. Tetapi, kehadiran mereka hanya karena saya sengaja menghadirkan mereka untuk membuyarkan apa saja yang aku takutnya. Tak mengerti ya? Abaikan saja kalau begitu.

Saya berubah, dan yang lainnya juga berubah. Dunia tak lagi sama, bahkan dua detik setelah ini. Saya yang terlalu menyesal telah mengabaikan banyak hal, banyak orang, dan banyak kesempatan. Karena segalanya sudah berubah (dan harus berubah). Saya harus meminta maaf dan berterima kasih. Saya telah lupa, karena mereka orang yang sangat berjasa dalam membesarkan hati saya yang kecil ini.

Pasir Honje, 050114. 
Terkhusus untuk Ibu, bapak dan dua sahabatku.