Selasa, Juni 07, 2011

Mengacau

Saya tidak menangis untuk hal yang tidak penting. Kini saya benar-benar menangis. Saya menyesal berada dalam posisi ini. Andai saya bisa mengubah ini, saya tidak akan sesedih ini. Nyatanya, semua keadaan ini harus saya terima. Saya marah, tapi entah pada siapa. Tidak tau apa yang sedang saya pikirkan. Semuanya teracak dalam banyak wadah, abstrak dan tak berpola.

Saya benci dia, saya benci melindunginya! Di sisi lain, saya mencintainya, bahkan dengan seluruh hati saya. Itu artinya, di sis lain saya ingin melindunginya dengan tangan saya.

Tuhan menjawab kegelisahan saya. Semua terjawab tuntas dengan cara-Nya. Lantas saya tak bergembira, saya lebih dirundung duka. Lebih parah dari biasanya. Saya gemetar, saya perlu menyalurkan semua agresi saya. Ini luar biasa.

Saya ingin tidur panjang, lalu bangun dan semua sudah berubah. Atau saya ingin membawanya pergi jauh, menyeretnya dan mengurungnya dalam gua, berdoa panjang dengannya, berdua saja. Lalu kami kembali dan semua sudah berubah. Itu cuma angan saya. Cuma berandai saja saya bisa melakukan itu atau itu akan bisa terjadi, saya tidak akan secemas ini.

Atau membuangnya jauh, meninggalkannya di tempat yang jauh sambil berteriak "HEI, AKU SUDAH TIDAK PEDULI KAU AKAN BERSETUBUH DENGAN SIAPA, ATAU MEMBUNUH SIAPA SAJA ASAL JANGAN KAU MINUM DARAH IBUKU!"

Sial! Saya lumpuh dan tidak bisa melakukan apa-apa. Membawanya atau membiarkannya. Saya terlalu lumpuh, dan sakit. Saya ingin mengakhiri tanpa harus memulai apa-apa. Saya terlalu takut menghadapinya. Saya terlalu berhati-hati agar tak satupun orang terlukai. Bukan karena saya terlalu mengasihani diri saya sendiri.

-
-
-

Saya ingin pergi tanpa sisa luka yang lain. Maafkan saya, Bu..

Tidak ada komentar: